ANALISIS WORKING KNOWLEDGE PADA PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA TBK
ANALISIS WORKING KNOWLEDGE PADA
PT
TELEKOMUNIKASI INDONESIA TBK
Artika
Priananda, Ichsan Nur Rahmanto, Nuraenie Oktavianthie, Pradita Dyah Ayu P,
Riski Serina Safitri
Manajemen Proses Bisnis,
Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Mercu Buana
Jl. Meruya Selatan No.31, Kota Jakarta Barat 11610, telp. (021) 5840816
Abstrak
PT Telkom Indonesia Tbk dilakukan untuk mengetahui apakah knowledge
sharing berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai di PT
Telkom Indonesia Tbk. Penelitian ini memiliki dua variabel, yaitu knowledge
sharing sebagai variable independen dan kinerja pegawai sebagai variable dependen.
Data didapatkan melalui wawancara dan penyebaran kuesioner pada karyawan di PT
Telkom Indonesia Tbk dengan jumlah sampelnya sebanyak 145 orang. Metode penelitian
ini menggunakan metode deskriptif dan metode verifikatif. Pengolahan data
dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil dari penelitian
ini menunjukkan bahwa Knowledge sharing berpengaruh positif sebesar 28,9% dalam
membentuk kinerja kerja pegawai, yang artinya dengan semakin baiknya pelaksanaan
knowledge sharing di PT Telkom, maka akan semakin baik pula kinerja yang
dimiliki pegawai.
Kata Kunci:Knowledge sharing, Kinerja
Pegawai
1. PENDAHULUAN
Penilaian kinerja biasanya
dilakukan pihak manajemen perusahaan untuk satu atau beberapa periode tertentu.
Artinya karyawan akan dinilai kinerja dalam satu periode tertentu. Pada PT
Telkom Indonesia divisi Big Data telah menetapkan cara untuk melakukan penilaian
pencapaian target karyawan berupa aplikasi yang diberi nama Aplikasi
Transformer. Penilaian kinerja tidak hanya dilihat dari pencapaian target saja,
menurut Robbins dalam Alindra (2015:22) kinerja karyawan dapat dilihat dari kualitas
hasil kerja, Kuantitas, Jadwal, Efektivitas, dan kemandirian.
PT Telkom Indonesia
bahkan bias dikatakan sudah memiliki sistem yang termasuk dalam best practices
KM, salah satunya adalah menjadi pionir dalam menciptakan corporate university
yang merupakan bukti otentik bahwa PT Telkom Indonesia benar-benarmengapresiasi
KM sebagaibagian yang sangat penting bagi perusahaan. Bahkan komitmen Telkom
terhadap pentingnya penyebaran, penyimpanan, dan aplikasi pengetahuan bagi kemajuan
bisnis perusahaan dibuktikan dengan pindahnya knowledge management dari Kantor
Pusat di bawah Direktorat Human Capital and General Affairs - yang saat ini difokuskan
pada manajemen SDM Perusahaan serta penyelenggaraan operasional SDM secara terpusat
melalui unit Human Capital Center, serta pengendalian Assessment Center
Indonesia serta Community Development Center - ke corporate university.
Perencanaan SDM juga
harus memperhatikan kendala – kendala yang ada seperti standard kemampuan
SDM, manusia itusendiri, situasi SDM serta peraturan pemerintah. Apabila kendala
ini dapat dihindarkan maupun diatasi maka perencanaan SDM akan bermanfaat untuk
memajukan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. Adapun system kerja dan kebijakan dari
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Diera globalisasi ini PT. Telkom telah merubah
kebijakan system kerja karyawan yaitu dengan menciptakan anak perusahaan atau berbentuk
Mitra, dimana didalam perusahaan Telkom yang beralih menjadi perusahaan yang
berbentuk mitra ini karyawan PT. Telkom tidak menetap disatu perusahaan
tertentu. Para karyawan PT. Telkom saat ini lebih banyak meninjau kelapangan secara
langsung dengan melakukan rolling atau perputaran karyawan.
Dalam upaya bertransformasi
menjadi digital telecommunication company, Telkom Group mengimplementasikan
strategi bisnis dan operasional perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan
(customer-oriented). Transformasi tersebut akan membuat organisasi Telkom Group
menjadi lebih lean (ramping) dan agile (lincah) dalam beradaptasi dengan perubahan
industry telekomunikasi yang berlangsung sangat cepat. Organisasi yang baru
juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam menciptakan
customer experience yang berkualitas.
2. LITERATUR TEORI
2.1
Pengertian
Knowledge Worker
Knowledge
workers adalah kunci inovasi dan pertumbuhan dalam organisasi pada saat ini,
dimana mereka menemukan produk dan layanan, merancang program pemasaran, dan
membuat strategi. seorang knowledge workers merupakan orang yang dipekerjakan berdasarkan
pengetahuannya tentang subyek tertentu, bukan berdasarkan keterampilannya membuat
atau mengerjakan sesuatu. Contohnya profesi seperti dosen, guru, ilmuwan,
peneliti, konsultan, programmer, system analyst, research and development,
dokter, dan lain sebagainya. artinya, knowledge worker merupakan pekerja yang
didedikasikan untuk mencari, memproses, dan menyebarkan pengetahuan baru bagi organisasi.
Industri
yang sedang berkembang umumnya cenderung merupakan industry dengan proporsi pekerja
berpengetahuan tinggi. Dalam organisasi, knowledge work cenderung selaras dengan
prospek pertumbuhan organisasi. selanjutnya davenport menjelaskan bagaimana manajemen
proses bisnis menggunakan beberapa varian ide yang dimodifikasi dapat berkontribusi
pada kinerja pengetahuan pekerja yang lebih baik.
Banyak
knowledge workers akan melihat pendekatan proses formal sebagai gangguan birokrasi
dan prosedural. kemungkinan yang jauh lebih menarik adalah bahwa orientasi
proses bermanfaat bagimereka, mereka akan mendapat manfaat dari disiplin dan
struktur yang dibawa oleh suatu proses, sambil tetap bebas untuk menjadi kreatif
dan berimprovisasi bila perlu dan diinginkan. dengan kata lain, suatu proses
dapat dipandang sebagai seni dari pada sains (Hall dan Johnson 2009).
Pengetahuan
pekerja dapat dianggap sebagai karyawan yang menerapkan pengetahuan mereka yang
berharga dan keterampilan (dikembangkan melalui pengalaman) kekompleks dan
masalah abstrak dalam lingkungan yang memberikan pengetahuan kolektif yang kaya
dan sumber daya relasional (Boxall dkk, 2007). Artinya bahwa karyawan yang memiliki
pengetahuan dan keterampilan berharga; karyawan menerapkan pengetahuan yang
kompleks; adanya produksi pengetahuan di Lingkungan yang menyediakan pengetahuan
kolektif dan jaringan sosial. Dengan terbangunnya pengetahuan secara kolektif
dan terwujudnya jaringan sosial yang luas, maka dapat dipastikan bahwa pengetahuan
yang dimiliki oleh karyawan dapat digunakan guna menunjang kelancaran dan
kebaikan perusahaan.
Lebih lanjut
Drucker (1993) mendefinisikan pengetahuan pekerja adalah individu yang memiliki
tingkat pendidikan dan kemampuan khusus yang dikombinasikan dengan kemampuan untuk
menerapkan keterampilan dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah.
Selain itu juga, Amstrong (2010) menegaskan bahwa esensi dari pengetahuan pekerja
adalah sejauh mana individu atau karyawan memiliki kemampuan dan tingkat pendidikannya
dalam membant kemajuan perusahaan atau organisasi.
Dengan demikian
bahwa pengetahuan pekerja adalah individu pegawai atau karyawan yang memiliki tingkat
pendidikan dan keterampilan khusus dan dapat menggunakannya untuk kepentingan
dan kemajuan perusahaan.
2.2 Karakteristik Knowledge Worker
MenurutZurnali (2010), pengetahuan
individual diciptakan ketika informasi berjalan melalui proses internal yang
mencakup interpretasi, refleksi dan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan
yang ada pada individu sehingga dapat diaplikasikan kedalam situasi atau konteks
baru. Agar mendorong individu memproses informasi untuk menciptakan pengetahuan,
maka setiap proses pembelajaran harus punya arti. Sebuah sudut pandang yang
jelas dari pengetahuan untuk dikembangkan merupakan sebuah keharusan untuk menstimulasi
komitmen pada penciptaan dan pengoperasian pengetahuan tersebut. Pandangan bersama
bekerja sebagai sebuah “mental map” yang menuntun para individu dalam tiga area
yang berkorelasi, yaitu:
- -
The world in which they live (dunia tempat mereka hidup);
- -
The world in which they must live (dunia tempat mereka
harus hidup);
-
Knowledge that needs to be developed in order to
follow the pathway between these two worlds (pengetahuan yang perlu untuk dikembangkan
agar untuk mengikuti lorong antara kedua dunia tempat mereka hidup dan dunia
tempat mereka harus hidup).
Dengan demikian, karakteristik pengetahuan pekerja diarahkan
pada ketiga hal tersebut yakni memberikan pengetahuan dan wawasan terkait dunia
tempat mereka hidup, dunia tempat mereka harus hidup dan pengetahuan yang perlu
dikembangkan dalam mendukung agar mampu mengkolaborasikan antara dunia tempat mereka
hidup dan dunia tempat mereka harus hidup. Tempat kerja yang berbeda-beda merupakan
pilihan karier yang dimiliki oleh masing-masing individu dan setiap pilihan
yang di ambil memiliki konsekwensi masing-masing yang berbeda. Oleh karenanya,
pegawai atau karyawan perlu diberi pengetahauan terkait dunia tempat kerja dan
dunia tempat kerja yang harus hidup.
Lebih lanjut
Zurnali (2010) menambahkan bahwa untuk menciptakan pengetahuan organisasional maka
pengetahuan individual (yang terdiri dari dua dimensi: a tacit dimension dan an
explicit dimension) harus dieksternalisasikan. Penciptaan pengetahuan organisasional
terjadi melalui konversi yang dikombinasikan dari setiap kedua dimensi, jadi mempromosikan
pembelajaran kelompok dan penyebaran kepada seluruh level organisasional.
Proses pentransformasian informasi kedalam pengetahuan ditempatkan dalam tingkat
internal individual, mencakup refleksi, interpretasi dan koneksi untuk eksperimen
praktik selanjutnya dalam konteks tepat. Hal tersebut tampak jelas bahwa karakter
yang perlu ditumbuhkan dalam perusahaan adalah pengetahuan dan wawasan yang
dimiliki harus dimuculkan dan ditransformasikan kepada orang lain sehingga terbentuk
iklim kerja yang baik dalam mendukung dan memajukan perusahaan.
May, dkk
(2002) menegaskan bahwa salah satu karakter yang penting juga adalah komitmen,
effort kerja, dan kepuasan kerjakaryawan. Ketiga hal tersebut menjadi hal yang
penting dalam sebuah pekerjaan. Jika karakter karyawan tersebut memiliki komitmen
yang tinggi dan kepuasan kerja maka dapat dipastikan bahwa karyawan tersebut mampu
memberikan dampak yang baik bagi perusahaan. Lebih lanjut Alvesson (2000)
menjelaskan bahwa pengetahuan karyawan memiliki rasa yang kuat dari motivasi instrinsik
dan sebagian besar tertarik pada pekerjaan yang membutuhkan kreatifitas yang
cukup dan inisiatif.
Knowledge
worker dapat memiliki (dan bahkan menciptakan dan memperbaharui) Pengetahuan
yang dimiliki organisasi (organizational knowledge), yaitu :
1.
Know how.
Pengetahuan mengenai bagaimana mengaplikasikan knowledge itu sendiri untuk menyelesaikan
tugas yang kompleks yang membutuhkan analisa dan strategi, seperti sebuah penelitian,
testing, pengembangan, dan inovasi.
2.
Know who.
Pengetahuan mengenai individu, grup, maupun unit organisasi yang dapat menjadi sumber
pengetahuan, dan metode bagaimana berhubungan dengan mereka.
3.
Know what. Yaitu
pengetahuan mengenaikarakteristik, fitur, dan kegunaan sumber daya, sistem,
maupun proses yang dapat ditemui dalam organisasi
4.
Know why.
Kemampuan untuk mengevaluasi dan melakukan review terhadap alternatif yang ada untuk
mendapatkan solusi yang terbaik
5.
Know where.
Kemampuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengakses sumber knowledge
yang ada
6.
Know when.
Pengetahuan untuk mengaplikasikan strategi yang dapat menyeimbangkan aktivitas,
permintaan, dan kebutuhan, dan project yang beragam
7.
Know if.
Pengetahuan untuk membayangkan, melakukan percobaan, mengantisipasi kemungkinan
yang terjadi di masa mendatang terhadap suatu opsi sebelum opsi tersebut diimplementasikan
2.3
Peran Knowledge Workers
Knowledge Workers membawa manfaat bagi organisasi dalam berbagaicara yang diantaranya dapat dilihat sebagai berikut:
1. Menganalisis untuk membangun hubungan.2. Menilai masukan untuk mengevaluasi prioritas kompleks atau bertentangan.
3. Mengidentifikasi dan memahami tren.
4. Membuat koneksi.
5. Pemahaman sebab dan akibat.
6. Kemampuan untuk melakukan brainstorming, berpikirluas (divergent thinking).
7. Kemampuan untuk menelusuri, menciptakan lebih fokus (convergent thinking).
8. Menghasilkan kemampuan baru.
9. Membuat atau memodifikasi strategi.
Suatu organisasi harus dapat memainkan peran dalam
pengembangan lingkungan kerja yang menjalankan perbaikan berkelanjutan dan
pengembangan profesional para pekerja mereka. Ada beberapa tanggungjawab manajerial
yang harus senantiasa di jalankan seperti member dukungan pelatihan dan
pengembangan bagi karyawan mereka, memberikan penugasan khusus dengan tujuan untuk
mempelajari hal-hal baru dan melakukan rotasi pekerjaan dan tanggungjawab dengan
tujuan untuk para pekerja mengembangkan dan berlatih keterampilan baru, tentu semua
ini semua harus di manajemen dengan baik oleh setiap organisasi.
2.4
Manajemen Pengetahuan
Manajemen
pengetahuan (Knowledge management) adalah kumpulan perangkat, teknik, dan
strategi untuk mempertahankan, menganalisis, mengorganisasi, meningkatkan, dan
membagikan pengertian dan pengalaman. Pengertian dan pengalaman semacam itu terbangun
atas pengetahuan, baik yang terwujudkan dalam seorang individu atau yang
melekat di dalam proses dan aplikasi nyata suatu organisasi. Fokus dari MP
adalah untuk menemukan cara-cara baru untuk menyalurkan data mentah kebentuk informasi
yang bermanfaat, hingga akhirnya menjadi pengetahuan. Chivu dan Popescu (2008)
mengatakan bahwa manajemen pengetahuan mempromosikan pendekatan terpadu untuk mengidentifikasi,
menangkap, mengambil, berbagi dan mengevaluasi asset informas isuatu perusahaan.
Lebih lanjut Amstrong (2010) menyatakan bahwa manajemen pengetahuan adalah
proses membuat, memperoleh, menggunakan dan berbagi pengetahuan untuk meningkatkan
pembelajaran dan kinerja dalam organisasi. Selain itu, Amstrong (2010) juga
menegaskan bahwa manajemen pengetahuan adalah tentang manajemen dan motivasi pekerja
pengetahuan yang menciptakan pengetahuan dan akan menjadi pemain kunci dalam berbagi.
2.5
Tujuan Manajemen Pengetahuan
Sasaran umum dari sistem knowledge
management dalam praktik adalah sebagai berikut:
1. Menciptakan pengetahuan: pengetahuan diciptakan seiring dengan manusia menentukan
cara baru untuk melakukan sesuatu atau menciptakan know-how. Kadang-kadang pengetahuan
eksternal dibawa kedalam organisasi/institusi;
2. Menangkap pengetahuan: pengetahuan barudi identifikasikan sebagai bernilai
dan direpresentasikan dalam suatu cara yang masuk akal dan dapat dicerna;
3. Menjaring pengetahuan: pengetahuan baru harus ditempatkan dalam konteks
agar dapat ditindak lanjuti. Hal ini menunjukkan kedalaman manusia (kualitas
tacit) yang harus ditangkap bersamaan denganf akta explicit;
4. Menyimpan pengetahuan: pengetahuan yang bermanfaat harus dapat disimpan dalam
format yang baik dalam penyimpanan knowledge, sehingga orang lain dalam organisasi
dapat mengaksesnya atau menggunakannya;
5. Mengolah pengetahuan: Sebagaimana sebuah perpustakaan (library),
pengetahuan harus dibuat up-to-date. Hal tersebut harus di ulas untuk menjelaskan
apakah pengetahuan tersebut relevan atau akurat.
6. Menyebarluaskan pengetahuan: pengetahuan harus tersedia dalam format
yang bermanfaat untuk semua orang atau anggota dalam organisasi yang memerlukan
pengetahuan tersebut, di mana pun dan tersedia setiap saat.
Lebih Lanjut King, R. K (2009) menjelaskan bahwa
manajemen pengetahuan adalah perencanaan, pengorganisasian, memotivasi, dan
mengendalikan orang, proses dan system dala morganisasi untuk memastikan bahwa aset-pengetahuan
terkait yang ditingkatkan dan efektif digunakan. Aset-pengetahuan terkait termasuk
pengetahuan dalam bentuk documenter cetak seperti paten dan manual, pengetahuan
disimpan dalam repository elektronik seperti Database “praktek terbaik”,
pengetahuan karyawan tentang cara terbaik untuk melakukan pekerjaan mereka,
pengetahuan yang dimiliki oleh tim yang telah bekerja pada masalah fokus dan
pengetahuan yang tertanam dalam organisasi produk, proses dan hubungan.
Selanjutnya Blake (1988) menegaskan bahwa tujuan manajemen pengetahuan adalah untuk
menangkap keahlian kolektif perusahaan dan mendistribusikannya kemana pun untuk
mencapai hasil terbesar. Dengan kata lain sebuah perusahaan yang sukses adalah perusahaan
menciptakan pengetahuan.
Dapat
disimpulkan bahwa tujuan dari manajemen pengetahuan adalah untuk mengetahui dan
mengambil karyawan yang memiliki keahlian tertentu kemudian didistribusikan sesuai
bidang dan kebutuhan yang diperlukan.
2.6
Pentingnya Manajemen Pengetahuan
Manajemen Pengetahuan dipandang penting,
karena implementasinya member manfaat pada bidang operasi dan pelayanan, dapat meningkatkan
kompetensi personal, memelihara ketersediaan knowledge dan inovasi serta pengembangan
produk. Sebuah contoh betapa pentingnya peran Manajemen Pengetahuan adalah apabila
perusahaan menghadapi kasus pengunduran diri dari karyawan yang memiliki
knowledge menonjol, sementara pada saat itu belum ada transfer knowledge bagi penggantinya.
Bisa terjadi kepindahan karyawan itu diikuti dengan kepindahan pelanggan. Bagi organisasi
yang ingin menerapkan manajemen pengetahuan dalam organisasinya perlu menyadari
pertama, bahwa pengetahuan ada pada orang dan bukan pada sistem, meskipun sistem
punya data dan informasi yang dapat membantu proses pengetahuan. Kedua,
penciptaan pengetahuan merupakan proses sosial, tercipta melalui interaksi antara
individu-individu dalam kehidupan sehari-hari mereka. Penerapan Manajemen Pengetahuan
akan memberikan pengaruh terhadap proses bisnis organisasi:
1. Peningkatan asset pengetahuan Sumber pengetahuan akan memberikan kemudahaan
kepada setiap karyawan untuk memanfaatkannya, sehingga proses pemanfaatan pengetahuan
di lingkungan organisasi akan meningkat, yang akhirnya proses kreatifitas dan
inovasi akan terdorong lebih luas dan setiap karyawan dapat meningkatkan kompetensinya.
2. Kemampuan beradaptasi Organisasi akan dapat dengan mudah beradaptasi dengan
perubahan lingkungan bisnis yang terjadi.
3. Peningkatan produktfitas Pengetahuan yang sudah ada dapat digunakan ulang
untuk proses atau produk yang akan dikembangkan, sehingga produktifitas dari organisasi
akan meningkat.
2.7
Strategi Manajemen Pengetahuan
Dua pendekatan untuk strategi manajemen pengetahuan
telah diidentifikasi oleh Hansen, dkk (1999). Strategi kodifikasi: pengetahuan hati-hati
dikodifikasikan dan disimpan dalam data base di tempat yang dapat diakses dan
digunakan dengan mudah oleh siapa saja dalam organisasi. Strategi
personalisasi: pengetahuan terkait erat dengan orang yang telah mengembangkan itu,
dan dibagi terutama melalui kontak langsung orang-ke-orang. Dari penjelasan tersebut,
hanya terdapat dua pendekatan dalam strategi manajemen pengetahuan yakni pengetahuan
personal dan kodifikasi. Setiap pendekatan memiliki kelemahan dan kelebihan
masing-masing sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.
2.8
Sistem Manajemen Perusahaan
Salah satu system dalam manajemen pengetahuan adalah system
pakar (expert system) yang mana salah satu teknologi andalan dalam manajemen pengetahuan,
terutama melalui empat alur skema penerapan atau aplikasi dalam suatu organisasi,
yaitu:
1. Case-based reasoning (CBR) yang merupakan representasi pengetahuan berdasarkan
pengalaman, termasuk kasus dan solusinya;
2. Rule-based reasoning (RBR) mengandalkan serangkaian aturan-aturan yang
merupakan representasi dari pengatahuan dan pengalaman karyawan/manusia dalam memecahkan
kasus-kasus yang rumit yang sedang dihadapi;
3. Model-based reasoning (MBR)
melalui representasip engatahuan dalam bentuk atribut, perilaku, antar hubungan
maupun simulasi proses terbentuknya pengetahuan;
4. Constraint-satisfaction reasoning (CSR) yang merupakan kombinasi antara
Rule-based reasoning (RBR) dan Model-based reasoning (MBR).
2.9 Model Manajemen Pengetahuan
Manajemen Pengetahuan dilaksanakan dalam system
pengelolaan pengetahuan, atau Knowledge Management System (KMS). Sebagian besar
organisasi yang menerapkan KMS, menggunakan pendekatan tiga-cabang untuk mengelola
pengetahuannya, yaitu- Manusia (People), Proses (Process), dan Teknologi
(Technology). Penekanan terhadap tiap-tiap elemen bias berbeda di setiap bagian
organisasi. Nonaka dan Takeuchi (1995) menggambarkan 4 proses konversi pengetahuan:
sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi dan internalisasi. Masing-masing proses
melibatkan perubahan satu bentuk pengetahuan (tacit atau explicit) kebentuk pengetahuan
lain (tacit atau explicit). Tacit knowledge adalah pengetahuan yang berbentuk
know-how, berdasarkan pengalaman, kemampuan dan pemahaman seseorang terhadap suatu
masalah yang pernah dihadapi sedangkan explicit knowledge adalah pengetahuan
yang tertulis, terarsip, tersebar (cetak maupun elektronik) dan bias sebagai bahan
pembelajaran (reference) untuk orang lain. Model ini memfokuskan pada persoalan
penting pada bagaimana pengetahuan dapat diciptakan melalui pembagian keorganisasian
dan menjadi berguna untuk mengidentifikasi dan menilai aktifitas-aktifitas penting
tertentu dalam manajemen pengetahuan. Model lain, yang dikemukakan oleh
Oluic-Vukovic (2001) menguraikan 5 langkah dalam rantai pemrosesan pengetahuan:
pengumpulan, penyusunan, penyaringan, penyampaian dan penyebaran. Model ini melingkupi
lebih lengkap lagi cakupan aktifitas yang dilibatkan dalam aliran pengetahuan organisasi.
Hampir menyerupai proses siklus hidup informasi yang menyarankan sekali lagi aspek
yang saling berhubungan dari Information Management dan Knowledge
Management.
3. PEMBAHASAN
Terdapat tiga proses yang dilakukan
PT. Telkom Indonesia Divre IV Jateng dan DIY dalam penerapan knowledge
management untuk dapat meningkatkan kinerja karyawan. Proses tersebut adalah
knowledge creation, knowledge sharing, dan implementation. Knowledge creation
adalah pembentukan knowledge yang ada di dalam perusahaan. Knowledge sharing
adalah membagika npengetahuan yang telah dimiliki PT. Telkom Indonesia Divre IV
Jateng dan DIY kepada para karyawan untuk menghindari terjadinya knowledge
loss. Dan yang terakhir implementation adalah bagaimana penerapan pengetahuan
yang telahdi peroleh karyawan PT. Telkom Indonesia Divre IV Jateng dan DIY yang
dapat mempermudah tugas dan tanggung jawabnya.
Salah satu hal penting yang
dilakukan PT.Telkom Indonesia Divre IV Jateng dan DIY adalah dengan memberikan berbagai
pelatihan terhadap karyawan PT. Telkom Indonesia Divre IV Jateng dan DIY.
Aktivitas sharing knowledge dilakukan dengan menanamkan budaya membaca dan
menulis pada kampiun. Sebagai upaya pembentuka nbudaya knowledge management PT.
Telkom Indonesia Divre IV Jateng dan DIY menerapkan penilaian , dimana salah
satu indicator dari penilaian tersebut adalah karyawan untuk bias mendapatkan poin
tertentu harus menulis pada kampiun. Secara tidak langsung hal tersebut memaksa
karyawan untuk meluangkan waktu untuk menulis ataupun membaca pada kampiun.
Aktivitas implementasi knowledge
pada PT. Telkom Indonesia Divre IV Jateng dan DIY ditandai dengan telah tersusun
secara rapi pengelolaan data base pengetahuan. Dalam hal ini tidak terlepas dari
peran serta teknologi. Segala macam pengetahuan yang dibutuhkan karyawan dapat dicari
pada kampiun dan e-learning, yaitu media pembelajaran PT. Telkom Indonesia
Divre IV Jateng dan DIY yang dapat diakses secara global karena terhubung dengan
seluruh jaringan PT. Telkom Indonesia di berbagai wilayah di Indonesia.
Pada PT. Telkom Indonesia Divre IV
Jateng dan DIY, penilaian kinerja dilakukan dengan penilaian performansi atau biasa
disebut P, yang terdiri dari P1 hingga P5. Selain itu juga terdapat penilaian kinerja
individu atau biasa disebut K, yang terdiridari K1 hingga K5. Dimana untuk mencapai
nilai K2, yang merupakan syarat kenaikan jabatan, karyawan harus lulus
e-learning 2x, hal ini mendorong karyawan untuk belajar, dan dapat meningkatkan
kinerjanya.
Untuk mencapai tingkat kinerja yang
baik, terdapat beberapa proses yaitu penciptaan pengetahuan atau knowledge
creation, berbagi pengetahuan atau knowledge sharing, serta penerapan pengetahuan
tersebut dalam pekerjaan sehari-hari. Berdasarkan data di lapangan, PT. Telkom
Indonesia Divre IV Jateng dan DIY pada unit HR telah melakukan upaya peningkatan
kinerja karyawan dengan menerapkan knowledge management pada buday akerja sehari-hari.
Untuk forum tatap muka sendiri,
sebagai bentuk knowledge sharing, rutin dilakukan setiap minggu pada masing-
masing unit. Berdasarkan data di lapangan forum ini terbukti efektif untuk
knowledge sharing, sertau ntuk mengurangi miss komunikasi dalam melakukan pekerjaan.
Selain itu juga karena efek dari maraknya social media sehingga para karyawan
juga sering menggunakannya untuk bertukar informasi seputar pekerjaan.
Teknologi yang dimilikiPT.Telkom
Indonesia Divre IV Jateng dan DIY sudah memberikan kemudahan bagi karyawan untuk
mencari informasi dengan intranet perusahaan. Data-data yang berkaitan dengan pekerjaan
selalu update, sehingga membantu karyawan menyelesaikan pekerjaannya.
4. KESIMPULAN
Dalam penelitian ini diketahui bahwa
pelaksanaan knowledge
sharing di
PT Telkom sudah berada pada taraf baik, yang mencerminkan bahwa di PT Telkom,
pelaksanaan knowledge
sharing baik
antar pegawai maupun antara atasan dengan bawahan sudah berjalan dengan
sendirinya, dan mendatangkan manfaat bagi para pegawai itu sendiri.
Berdasarkan hasil penelitian
ditemukan bahwa Knowledge sharing berpengaruh positif dalam
membentuk kinerja kerja pegawai, yang artinya dengan semakin baiknya
pelaksanaan knowledge sharingdi PT Telkom, maka akan
semakin baik pula kinerja yang dimiliki pegawai.
Selain itu knowledge sharingjuga memiliki pengaruh
yang cukup besar dalam membentuk kompetensi pegawai, yang artinya kompetensi pegawai
akan semakin baik apabila pegawai tersebut juga aktif dalam mengikuti
kegiatan-kegiatan knowledge sharingyang dapat menambah
pengetahuannya terutama yang berkaitan dengan pekerjaan.
Knowledge sharingyang dimiliki oleh PT
Telkom Indonesia, memiliki pengaruh yang langsung dapat meningkatkan kinerja
pegawai itu sendiri, atau dengan kata lain adanya pengaruh langsung dari knowledgesharingke kinerja pegawai
memperlihatkan bahwa pada saat pegawai Telkom sudah menjalankan kebiasaannya
untuk berbagi pengetahuan, maka dengan sendirinya pegawai-pegawai tersebut
dapat mencari cara untuk meningkatkan kinerjanya, meskipun perusahaan tidak
memberikan pelatihan untuk peningkatan kompetensi pegawai terlebih dulu.
DAFTAR PUSTAKA
Ismail, I. (2021, Maret 25). Knowledge
Management Adalah: Pengertian, Tujuan, Keuntungannya untuk Bisnis.
Dipetik November 2021, dari accurate.id:
https://accurate.id/marketing-manajemen/knowledge-management-adalah/
Januari, Cindi Ismiet al. (2015).
PengaruhPenilaian Kinerja terhadapKepuasanKerjadanPrestasiKerja.JurnalAdministrasiBisnis
(JAB), Vol. 24 No. 2 Juli 2015. Malang: Universitas Brawijaya.
Kandow, Yunita L, Victor P.K Lengkong,
Greis Sendow. (2016). PengaruhKnowledge management dan Skill Terhadap
Kinerja Karyawan (studi pada Bank Sulutgo Kantor Pusat di Manado).
Universitas Sam Ratulangi Manado. JurnalBerkalaIlmiahEfisiensi, Volume
16 No. 01 Tahun 2016.
Putra, Y. M., (2021). Working
Knoledge. Modul KuliahManajemen Proses Bisnis. Jakarta : FEB-Universitas
MercuBuana.
Haryono, A., &Rimawan, E. Improvement
of Business Process Modeling in Small and Medium Industries (Smis) to Sustain
in Global Economic Competition. Operations Excellence, 9(1),
34-43.
Nugroho, A., &Kusumah, L.H. (2021).
AnalisisPelaksanaan Quality Control untukMengurangi Defect Produk di
Perusahaan PengolahanDagingSapi Wagyu denganPendekatan Six Sigma.
JurnalManajemenTeknologi 20 (1), 56-78.
Nusraningrum, D., Jaswati, J.,
&Thamrin, H. (2020). The Quality of IT Project Management: The Business
Process and The Go Project Lean Aplication. ManajemenBisnis, 10(1),
10-23.
Saryanto, S., Purba, H., &Trimarjoko,
A. (2020). Improve quality remanufacturing welding and machining process in
Indonesia using six sigma methods. J. Eur. SystèMesAutom, 53,
377-384
Vidianto, A. S., & Haji, W. H. (2020).
SistemInformasiManajemenProyekBerbasis Kanban (StudiKasus: PT. XYZ). JurnalTeknologiInformasi
dan IlmuKomputer (JTIIK), 7(2).
Komentar
Posting Komentar