ANALISIS MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA & MANAJEMEN RESIKO PADA MANAJEMEN PROYEK PADA PT TELKOM INDONESIA TBK
ANALISIS MANAJEMEN SUMBER
DAYA MANUSIA & MANAJEMEN RESIKO PADA MANAJEMEN PROYEK PADA
PT TELKOM INDONESIA TBK
Artika Priananda, Ichsan
Nur Rahmanto, Nuraenie Oktavianthie, Pradita Dyah Ayu P, Riski Serina Safitri
Manajemen Proses Bisnis,
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mercu Buana
Jl. Meruya Selatan No.31,
Kota Jakarta Barat 11610, telp. (021) 5840816
Abstrak
Perencanaan SDM juga harus memperhatikan kendala –
kendala yang ada seperti standar kemampuan SDM, manusia itu sendiri,
situasi SDM serta peraturan pemerintah. Apabila kendala ini dapat dihindarkan
maupun diatasi maka perencanaan SDM akan bermanfaat untuk memajukan PT.
Telekomunikasi Indonesia Tbk. Dalam upaya bertransformasi menjadi digital
telecommunication company, Telkom Group mengimplementasikan strategi bisnis dan
operasional perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan (customer-oriented).
Memahami dan mengerti kebutuhan serta
ekspektasi pemangku kepentingan adalah bagian penting dari pengelolaan GCG
untuk mewujudkan kesetaraan berkeadilan bagi pemangku kepentingan. Melalui
budaya perusahaan “The Telkom Way”, manajemen berusaha untuk menumbuhkan tata
nilai dan budaya Perusahaan dengan cara pemahaman dikalangan karyawan akan
nilai-nilai yang harus senantiasa disampaikan kepada semua pemangku kepentingan
dan menjadikannya sebagai pusat inspirasi termasuk norma dan prinsip-prinsip
tata kelola perusahaan
Kata Kunci: Manajemen, Manajemen Komunikasi,
Manajemen Resiko
1. PENDAHULUAN
PT Telkom Indonesia
(Persero) Tbk adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang
jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan jaringan
telekomunikasi di Indonesia. Pemegang saham mayoritas Telkom adalah Pemerintah
Republik Indonesia sebesar 52.09%, sedangkan 47.91% sisanya dikuasai oleh
publik. Saham Telkom diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode
“TLKM” dan New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode “TLK”.
Perencanaan SDM juga
harus memperhatikan kendala – kendala yang ada seperti standar kemampuan
SDM, manusia itu sendiri, situasi SDM serta peraturan pemerintah. Apabila
kendala ini dapat dihindarkan maupun diatasi maka perencanaan SDM akan
bermanfaat untuk memajukan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. Adapun sistem
kerja dan kebijakan dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Diera globalisasi
ini PT. Telkom telah merubah kebijakan sistem kerja karyawan yaitu dengan
menciptakan anak perusahaan atau berbentuk Mitra, dimana didalam perusahaan
Telkom yang beralih menjadi perusahaan yang berbentuk mitra ini karyawan PT.
Telkom tidak menetap disatu perusahaan tertentu. Para karyawan PT .Telkom saat
ini lebih banyak meninjau kelapangan secara langsung dengan melakukan rolling
atau perputaran karyawan.
Dalam upaya
bertransformasi menjadi digital telecommunication company, Telkom Group
mengimplementasikan strategi bisnis dan operasional perusahaan yang
berorientasi kepada pelanggan (customer-oriented). Transformasi tersebut akan
membuat organisasi Telkom Group menjadi lebih lean (ramping) dan agile (lincah)
dalam beradaptasi dengan perubahan industri telekomunikasi yang berlangsung
sangat cepat. Organisasi yang baru juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi
dan efektivitas dalam menciptakan customer experience yang berkualitas.
2. LITERATUR TEORI
2.1
Definisi
Manajemen SDM
Manajemen
proyek yang sukses tidak terlepas dari struktur organisasi yang bukan hanya
peran saru orang namun terdiri dari sekelompok orang untuk didedikasikan dalam
pencapaian tujuan organisasi. manajemen proyek SDM terdiri dari: owner, project
manager, assistant project manager, project office, project team.
1.
Terdapat
lima pertimbangan sebelum menjalankan fungsi kepagawaian, yaitu: Apa syarat menjadi manajer proyek
sukses?
2.
Siapa
yang menjadi anggota tim?
3.
Anggota
proyek mana yg akan ditugaskan pada proyek tersebut?
4.
Masalah
apa yang mungkin terjadi selama masa perekrutan?
5.
Apa
yang terjadi jika di hilir kehilangan anggota tim kunci?
2.2 Procurement Management Process
Procurement management merupakan
mengelola proses pembelian atau memperoleh produk, jasa, atau hasil yang
diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan. Sedangkan pengadaan adalah mendapatkan
barang dan/atau layanan dari sumber luar. Unsur lain dalam pelaksanaan
procurement adalah kontrak, kontrak adalah suatu kesepakatan yang saling
mengikat kewajiban antara penjual untuk menyediakan produk atau jasa dan
pembeli untuk membayar. Kontrak dapat memperjelas tanggung jawab dan kewajiban
para pihak dan mengikat secara hukum.
Perencanaan
-
Tahap
pertama dalam perencanaan pengadaan adalah menentukan apa yang harus diadakan,
kapan, dan bagaimana.
-
Mengidentifikasi
kebutuhan proyek terbaik yang dapat dipenuhi denganmenggunakan produk atau jasa
di luar organisasi.
-
Make
or buy analysis: yaitu Teknik untuk menentukan apakah suatu organisasi harus
membuat/melakukan suatu produk/jasa tertentu dalam organisasi atau membeli
kepada pihak luar.
-
Ahli,
artinya individu baik secara internal ataupun eksternal yang memberikan masukan
yang berharga dalam pengambilan keputusan pengadaan.
Metode yang dapat digunakan dalam penyedia barang, seperti:
e-purchasing; pengadaan langsung; penunjukkan langsung; tender cepat; dan
tender. Sedangkan penyedia jasa: seleksi; pengadaan langsung; dan penunjukkan
langsung.
Jenis Kontrak
Dalam kontrak harus menguraikan persyaratan produk atau jasa
yang diinginkan dari pengadaan dan mengidentifikasi sumber-sumber potensial
penyedia jasa (kontraktor, pemasok, atau penyedia layanan lainnya). Jenis
kontrak yang dapat digunakan dalam pengadaan pada pekerjaan konstruksi/jasa
lainnya, seperti: lumpsum, harga satuan, terima jadi, kontrak payung. Sedangkan
pada jasa konsultasi, seperti: lumpsum, waktu penugasan, dan kontrak payung.
Tahapan proses pengadaan
barang/jasa
1.
Rencana
umum pengadaan (RUP), yaitu bertanggung jawab dalam penyusunan Rencana Umum
Pengadaan untuk: a) melakukan identifikasi kebutuhan; b) menetapkan kewajiban
umum; memeriksa dan mengesahkan RAB; d memeriksa dan mengesahkan.
2.
Alokasi
anggaran, bertanggung jawab dalam alokasi anggaran untuk: a) mengalokasikan
anggaran kegiatan dalam rencana kerja dan anggaran; b) mengalokasikan anggaran
kegiatan dalam daftar isian pelaksanaan anggaran.
3.
Reviu
Rencana Umum Pengadaan, bertanggung jawab dalam reviu RUP untuk kebijakan umum;
meriviu ulang RAB, dan KAK.
4.
Rencana
pelaksanaan pengadaan, bertanggung jawab dalam Menyusun RPP untuk: Menyusun
spesifikasi teknis/KAK teknis kegiatan, Menyusun HPS, Menyusun rencana kontrak.
5.
Reviu
rencana pelaksanaan pengadaan
6.
Rencana
pemilihan penyedia
7.
Melaksanaan
proses pemilihan.
Meminta Tanggapan Penyedian
Jasa
Melakukan pengumuman atau undangan kepada pihak penyedia
barang/jasa dengan menyiapkan beberapa dokumen seperti proposal atau penawaran.
Memilih Penyedia Barang/Jasa
Proses evaluasi organisasi melalui berkas proposal dan
penawaran yang diajukan dari penyedia, memilih yang terbaik, dan negosiasi jika
diperbolehkan.
Administrasi Kontrak
Setelah menyelesaikan tahap evaliasi dalam memilih penyedia
barang/jasa maka tahap selanjutnya adalah mengelola hubungan dengan penyedia,
yakni memastikan bawa kinerja penyedia jasa memenuhi persyaratan kontrak,
professional hukum dan kontrak yang terlibat dalam menulis dan administrasi,
Ketika manajer proyek mengabaikan masalah kontraktual dapat menyebabkan masalah
serius.
Penutupan Kontrak
Pada saat penutupan kontrak
aktivitas mencakup menyelesaikan dan menetapkan di kontrak dan menyelesaikan
setiap item terbuka. Tim proyek harus: menentukan apakah semua pekerjaan
selesai dengan benar dan memuaskan; memperbaharui catatan untuk mencerminkan
hasil akhir; mengarsipkan informasi untuk penggunaan di masa depan. Kontrak
harus mencakup persyaratan untuk diterima secara formal dan penutupan. Alat bantu dalam penutupan kontrak dapat
berupa audit pengadaan mengidentifikasi pelajaran yang diperoleh dalam proses
pengadaan. Sistem manajemen pencatatan memberikan kemampuan dengan mudah
mengatur, menemukan, dan arsip dokumen yang terkait dengan pengadaan.
2.3
Time Management Process
Manajemen waktu proyek merupakan tahapan
mendefinisikan proses yang perlu dilakukan selama proyek berlangsung berkaitan
dengan penjaminan agar proyek dapat berjalan tepat waktu dengan tetap memperhatikan
keterbatasan biaya serta penjagaan kualitas produk/jasa/hasil dari proyek.
Tahap-tahap
manajemen waktu proyek
1. Definisikan aktivitas
Mengidentifikasi jadwal aktivitas yang harus
dilaksanakan secara spesifik untuk memproduksi hasil-hasil proyek.
2. Pengurutan aktivitas
Mengidentivikasi dan mendokumentasikan
keterkaitan antar satu aktivitas dengan aktivitas lainnya.
3. Estimasi kebutuhan aktivitas
Estimasi jenis dan jumlah sumber daya yang
dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas yang sudah terjadwal.
4. Estimasi durasi aktivitas
Estimasi periode yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan pekerjaan dari setiap aktivitas.
5. Membangun jadwal
Menganalisis urutan aktivitas, durasi, sumber
daya yang dibutuhkan dan tantangan pemenuhan jadwal sampai terbentuknya jadwal pelaksanaan
proyek.
6. Mengendalikan jadwal
Daftar Aktivitas (Activity List)
Daftar
aktivitas dibuat berdasarkan WBS dan WBS Dictionary; Project Deliverables,
hambatan dan asumsi yang tertera dalam scope statement juga menjadi bahan
pertimbangan Ketika membangun Activity List. Sebaiknya dibuat berdasarkan
standar/template activity list yang telah biasa digunakan oleh organisasi yang
bersangkutan.
Terdapat informasi yang mendukung dalam
atribut aktivitas, yaitu:
·
Identitas aktivitas, kode aktivitas,
deskripsi aktivitas, aktivitas pendahuluanya, aktivitas yang mengikutinya,
relasi logis antar aktivitas, hal yang mempercepat dan yang mungkin
memperlambat aktivitas, sumber daya yang dibutuhkan, tantangan dan hambatan
serta asumsi.
·
Orang yang bertanggung jawab dalam
mengeksekusi suatu pekerjaan.
·
Area geografis atau tempat pekerjaan harus
dilakukan.
·
Tipe aktivitas, misalnya apakah suatu
aktivitas harus dikerjakan dengan pembagian dan bertahap atau merupakan satu
kesatuan pekerjaan yang dapat berdiri sendiri.
Milestone
list merupakan daftar peristiwa yang menjadi pananda selesainya suatu
pekerjaan, misalnya tanggal, produk yang dihasilkan, laporan, dan sebagainya.
Milestone list ini berguna untuk memonitoring kemajuan proyek. Kriteria SMART
dalam membuat milestones, yaitu Spesific, measurable, assignable, realistic,
time framed.
Urutan aktivitas dapat digambarkan dengan
berbagai diagram seperti
1. Network diagram dan critical path analysis
Diagram ini juga disebut dengan activity on
arrow (AOA) project network diagrams, setiap aktivitas direpresentasikan
sebagai tanda panah. note atau lingkaran sebagai penanda awal dan akhir sebuah
aktivitas. Diagram ini hanya dapat menunjukkan ketergantungan dari awal ke
akhir. Berikut ini merupakan contoh diagram.
2. Precedence diagram
Diagram ini merepresentasikan aktivitas oleh
kotak-kotak, tanda panah menunjukkan relasi antar aktivitas. Selain itu diagram
ini lebih popular dibandingkan ADM dan banyak digunakan dalam manajemen proyek
perangkat. Dibandingkan ADM diagram ini lebih baik dalam memperlihatkan
berbagai tipe ketergantungan.
Estimasi Durasi
Aktivitas
Setelah mendefinisikan aktivitas serta
urutannya, Langkah selanjutnya dalam manajemen adalah mengestimasi durasi yang
dibutuhkan oleh aktivitas-aktivitas tsb. Durasi merupakan jumlah aktual waktu
yang dibutuhkan untuk bekerja ditambah dengan waktu. Effort adalah jumlah hari
atau jumlah jam yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Orang yang
melakukan/bertanggung jawab dengan sebuah aktivitas atau pekerjaan sebaiknya turut
serta dalam mengestimasi durasi aktivitas, sedang para ahli memberi masukan dan
mengevaluasi hasilnya.
Membangun Jadwal
Dalam membangun jadwal gunakanlah hasil
proses manajemen waktu sebelumnya. Sehingga lebih mudah dalam menentukan
tanggal awal dan tanggal akhir dari sebuah aktivitas. Tujuan utama dari proses
ini adalah membangun jadwal yang realistis sebagai dasar dalam memonitor
kemajuan proyek berkaitan dengan keterbatasan waktu. Alat yang dapat digunakan
antara lain : Gantt Charts, PERT analysis, critical pathanalysis, dan critical
chain scheduling.
Mengendalikan
Perubahan Jadwal Proyek
Cara untukmengendalikan perubahan jadwal
selama proyek berjalan yaitu, 1) lakukan pemeriksaan jadwal secara teratur; 2)
Jangan berpikir bahwa setiap orang dapat bekerja dengan kapasitas 100% setiap
saat; 3) Lakukan rapat yang menyatakan kemajuan proyek dengan stakeholders dan
nyatakanlah keadaan dengan jelas dan jujur dalam mengkomunikasikan isu-isu yang
berkaitan dengan jadwal.
2.4
Cost
Management Process
Biaya merupakan suatu
sumber daya yang dikeluarkan untuk mencapai sasaran yang bersifat khusus. Biaya biasanya diukur dengan
satuan uang seperti rupiah, dolar atau mata uang lainnya. Sedangkan manajemen
Biaya Proyek adalah suatu proses atau kegiatan yang diperlukan untuk memastikan
bahwa proyek akan dapat diselesaikan dalam suatu anggaran yang telah disetujui.
Manajemen biaya menjadi perhatiaan karena, 1) Proyek IT mempunyai track record
yang buruk dalam hal penggunaan biaya untuk mencapai sasaran proyek; 2) Hasil studi
yang dilakukan oleh CHAOS menjelaskan bahwa sejak tahun 1995, ratarata
penggunaan biaya mencapai 189% di atas perkiraan biaya asli, namun mengalami
peningkatan hingga 45% pada studi yang dilakukan pada tahun 2001.
Berdasarkan
fase-fase proyek, penerapan manajemen biaya diterapkan pada fase Perencanaan
dan selebihnya pada fase Pengendalian. Kegiatan manajemen biaya proyek pada
fase planning meliputi: Perencanaan sumber daya, estimasi biaya dan anggaran
biaya. Sedangkan pada fase pengendalian kegiatannya adalah pengendalian biaya
proyek.
Proses yang dilakukan dalam manajemen biaya proyek
meliputi:
Perencanaan sumber daya
Menentukan
sumber daya apa saja yang digunakan dan berapa jumlahnya. Sifat alami dari
suatu proyek atau organisasi akan mempengaruhi perencanaan sumber daya.
Perencanaan sumber daya ini pada prinsipnya membuat rencana kebutuhan berbagai
sumber daya (khususnya material, SDM, biaya dll) berdasarkan aktivitas
pekerjaan dalam suatu proyek. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, antara lain:
·
Bagaimana
tingkat kesulitan pekerjaan dalam proyek tersebut?
·
Apakah
terdapat statemen khusus tentang lingkup (scope) proyek yang akan mempengaruhi
penggunaan sumber daya?
·
Apakah
organisasi tersebut pernah melakukan kegiatan atau proyek yang serupa, sehingga
dapat dipakai untuk acuan penggunaan sumber daya?
·
Apakah
organisasi mempunyai orang-orang, peralatan, dan material yang tersedia dan
mampu untuk melakukan pekerjaan di dalam proyek?
·
Apakah
organisasi membutuhkan sumberdaya lebih besar untuk menyelesaikan pekerjaan?
Bagaimana melakukan outsourcing beberapa pekerjaan?
·
Apakah
ada kebijakan organisasi yang mempengaruhi ketersediaan sumber daya?
Estimasi Biaya
Menyusun
suatu perkiraan biaya dan sumber daya yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu
proyek. Melakukan estimasi biaya berdasarkan siklus waktu terdapat tiga tipe
yaitu gambaran kasar, sedang dan detail. Gambaran kasar dilakukan jika waktu
pelaksanaan proyek sangat lama (3-5 tahun), sedang jika pelaksanaan proyek
antara 1-2 tahun, dan estimasi detail jika pelaksanaan proyek kurang dari 1
tahun.
Tool
dan Teknik Estimasi Biaya
1. Pendekatan
atas-bawah: menggunakan harga riil proyek sejenis yang sebelumnya pernah
dikerjakan untuk perkiraan biaya yang baru.
2. Pendekatan
bawah-atas: menaksir materi pekerjaan secara rinci dan menjumlahkan secara
keseluruhan untuk menentukan biaya total proyek.
3. Pendekatan
parametrrik: membuat perkiraan biaya proyek dengan menggunakan model matematika
berdasarkan variabel atau karakteristik proyek.
Contoh
Tool:
COCOMO
(Constructive Cost Model) yang dikembangkan oleh Barry Boehm: software yang
digunakan untuk menyusun estimasi biaya proyek
Jenis-jenis
Masalah Yang Berkaitan dengan Estimasi Biaya
•
Menyusun estimasi untuk
suatu proyek yang sangat besar adalah tugas yang sangat kompleks dimana
estimasi harus dilakukan pada berbagai langkah-langkah atau aktivitas pekerjaan
dalam proyek.
•
Banyak orang yang
melakukan estimasi hanya mempunyai sedikit pengalaman sebelumnya. Untuk
menghindari hal tersebut, mungkin perlu dilakukan pelatihan dan pembimbingan
penyusunan anggaran.
•
Banyak orang cenderung
meremehkan kegiatan estimasi ini sehingga pada akhirnya banyak perkiraan yang
bias/menyimpang. Penyimpangan ini dapat dihindari dengan melakukan
review/tinjauan/presentasi anggaran biaya atau dengan pendapat untuk meyakinkan
bahwa anggaran biaya tidak menyimpang.
•
Pihak manajemen
biasanya menginginkan informasi jumlah biaya proyek dan bukan estimasi riil
atas suatu proyek. Manajer proyek harus melakukan negosiasi dengan pihak
sponsor proyek untuk menentukan biaya proyek yang realistis.
Penganggaran
Biaya
Membuat suatu alokasi perkiraan biaya
secara menyeluruh ke dalam rincian pekerjaan untuk menetapkan suatu baseline
sebagai ukuran kinerja. Salah satu keluaran dari manajemen biaya proyek yang
paling penting adalah suatu perkiraan anggaran biaya yang melibatkan alokasi
perkiraan biaya proyek ke item-item materi pekerjaan dan menyediakan suatu
pedoman pembiayaan. Sebagai contoh: Pada proyek penggantian system bisnis di
atas, total anggaran biaya untuk pengadaan hardware dan maintenance pada tahun
97 (FY97) sebesar $270,000, pemeliharaan software sebesar $250,000 dan
sebagainya.
Pengendalian
Biaya
Melakukan pengendalian terhadap
perubahan-perubahan pada anggaran proyek. Pengendalian biaya proyek meliputi:
-
Monitoring penggunaan
biaya;
-
Memastikan bahwa
perubahan biaya proyek sudah tercakup dalam anggaran biaya yang direvisi dalam
pedoman anggaran biaya;
-
Memberikan informasi
kepada stakeholder proyek terhadap perubahan-perubahan yang mempengaruhi biaya
proyek.
Earned
Value Management (EVM)
Disebut juga EVA (Earned Value Analysis),
adalah teknik pengukuran kinerja proyek dengan mengintegrasikan antara
data-data scope, waktu dan biaya proyek. EVM meliputi penghitungan 3 nilai
untuk tiap aktivitas proyek atau ringkasan aktivitas pada WBS proyek, yaitu PV
(planned value), AC (actual cost) dan EV (earned value).
-
PV (planned value)
adalah biaya yang dianggarkan pada pekerjaan yang terjadwal.
-
AC (actual cost) adalah
biaya aktual yang dikeluarkan untuk tiap pekerjaan yang terjadwal.
-
EV (earned value)
adalah biaya yang dikeluarkan berdasarkan kinerja pencapaian pekerjaan.
Besaran-besaran
lain yang dihitung dalam EVM:
-
CV (Cost Variance)
adalah selisih antara estimasi biaya pencapaian aktivitas (EV) dengan biaya
aktual (AC). Menunjukkan
-
SV (Schedule Variance)
adalah selisih antara estimasi biaya pencapaian aktivitas (EV) dengan estimasi
penyelesaian aktivitas (PV).
-
CPI (Cost Performance
Index) adalah rasio antara EV dengan AC, menunjukkan tingkat penyerapan biaya
berdasarkan pencapaian pekerjaan/aktivitas.
-
SPI (Schedule
Performance Index) adalah rasio antara EV dengan PV, menunjukkan tingkat
penyerapan biaya berdasarkan estimasi biaya yang sudah dianggarkan.
Catatan:
-
Biaya varian (CV dan
SV) yang bernilai negatif mengindikasikan ada masalah dalam proyek, dimana
biaya yang dikeluarkan melebihi biaya yang telah direncanakan.
-
CPI dan SPI di bawah
100%mengindikasikan adanya masalah.
3. PEMBAHASAN
3.1 Perencanaan Sumber Daya Manusia PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
Perencanaan sumber daya manusia dicirikan
oleh suatu keterkaitan utama antara perencanaan strategis dan manajemen sumber
daya manusia. Perencanaan SDM merupakan proses pengambilan keputusan dalam
menyewa dan menempatkan staf dalam perusahaan. Keduanya melibatkan rancangan
kerja, rekrutmen, skrining, kompensasi, pelatihan, promosi dan kebijakan
pekerjaan.
Peramalan kebutuhan SDM pada PT.
Telekomunikasi Indonesia, Tbk kebutuhan atau permintaan SDM dimasa yang akan
datang merupakan titik utama kegiatan perencanaan SDM. Hampir semua organisasi
harus membuat prediksi atau perkiraan kebutuhan sumber daya manusianya dimasa
datang. Untuk itu perlu identifikasi berbagai tantangan yang mempengaruhi
kebutuhan SDM tersebut.
Dalam meramalkan kebutuhan SDM dapat
dilakukan dengan :
1. Metode Matematis : analisis regresi, model simulasi, faktor
produktivitas, rasio kepegawaian.
2. Metode Penilaian : Perkiraan, aturan, thikdelphi, kelompok nominal.
Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam peramalan kebutuhan sumber daya
manusia adalah :
1. Kondisi Eksternal yang meliputi Ekonomi dan sosial politik,
undang-undang dan peraturan pemerintah, masyarakat, angkatan kerja dan
perkembangan teknologi.
2. Persyaratan SDM dimasa mendatang meliputi penentuan persyaratan SDM yang
dibutuhkan dimasa mendatang selain dipengaruhi oleh faktor eksternal, juga ditentukan oleh organisasi dan rancangan
pekerjaan, perencanaan dan anggaran, kebijaksanaan manajemen dan filosofi
organisasi, sistem dan teknologi dalam organisasi, tujuan dan rencana
organisasi, persyaratan SDM yang dibutuhkan dimasa mendatang berpengaruh
langsung pada prakiraan kebutuhan (jumlah dan jenis) SDM di masa mendatang.
3. Ketersediaan SDM dimasa mendatang yang dapat diprediksi melalui
Inventarisasi bakat yang ada saat ini, prakiraan pengurangan pegawai, prakiraan
perpindahan dan pengembangan, pengaruh pasca program SDM.
4. Prakiraan kebutuhan SDM, Dari faktor
– faktor diatas bahwa kebutuhan
SDM dapat diprediksi. Yang perlu di ingat dalam melaksanakan prakiraan
kebutuhan SDM adalah kebutuhan tersebut harus dibedakan. Apakah kebutuhan
tersebut bersifat segera atau untuk waktu yang cukup lama. Disamping itu juga
perlu dipertimbangkan tingkah upah eksternal, ada tidaknya penurunan jumlah
pegawai atau realokasi pegawai, perbaikan dan pengembangan pegawai.
Dalam
perhitungan pegawai ini juga digunakan metode rasio. Metode ini menggunakan
jumlah tempat tidur sebagai denominator personal yang diperlukan. Metode ini
paling sering digunakan karena sederhana dan mudah. Metode ini hanya mengetahui
jumlah personal secara total tetapi tidak bisa mengetahui produktifitas SDM PT.
Telekomunikasi Indonesia, Tbk dan kapan personal tersebut dibutuhkan oleh
setiap unit atau bagian tertentu yang membutuhkan bisa digunakan bila kemampuan
dan sumber daya untuk perencanaan personal terbatas, jenis, tipe dan volume
pelayanan kesehatan relative stabil.
Setelah
mendapatkan gambaran tentang jumah SDM yang dibutuhkan PT. Telekomunikasi
Indonesia, Tbk dimasa mendatang, maka perlu dirancang suatu program kearah
tersebut. Rancangan atau rencana program tersebut meliputi dua hal besar, yaitu
:
1. Manajemen Kinerja, meliputi : hal-hal yang berkaitan dengan
keorganisasian seperti aktifitas kerja, hubungan kerja, tanggung jawab kerja,
dan kualitas kehidupan kerja.
2. Manajemen Karir, meliputi: Sistem dan kebijakan PT Telekomunikasi
Indonesia,Tbk yang terdiri dari rekrutmen, seleksi dan penempatan, promosi dan
transfer dan pengembangan serta pemberentian.
Setelah perencanaan SDM ditetapkan, kemudian
dipikirkan beberapa cara alternative rekrutmen. Perlunya dipikirkan tentang
alternative terhadap rekrutmen didasarkan pada pertimbangan bahwa rekrutmen
memerlukan biaya yang tinggi, antara lain untuk proses riset interview,
pembayaran fee agen rekrutmen, dan masalah relokasi dan pemrosesan pegawai
baru. Disamping itu, para calon perawat yang diproses dalam rekrutmen serta
dinyatakan lulus dalam seleksi. Kemudian diterima menjadi karyawan, nantinya
akan sukar untuk di keluarkan (diberhentikan) meskipun mereka hanya
memperlihatkan kinerja marjinal saja. Oleh karena itu PT Telekomunikasi
Indonesia,Tbk harus mempertimbangkan secara hati-hati berbagai alternative
sebelum melakukan rekrutmen.
3.2 Job Descriftion PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
Uraian jabatan rincian, pekerjaan yang
bersisi informasi menyeluruh tentang tugas atau kewajiban, tanggungjawab dan
kondisi – kondisi yang diperlukan apabila pekerjaan
tersebut dikerjakan. Uraian tugas dan wewenang dari masing –
masing bagian pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk adalah sebagai
berikut :
1. General Manager, Tugas General Manager antara lain :
a. Mampu menjamin tercapainya target kinerja jaringan copper dan DSL Access
Network dan mengimplenntasikan kebijakan manajemen operasi dan pemeliharaan
system jaringan.
b. Mampu menjamin tercapainya target kinerja sistem CPE dan
mengimplementasikan kebijakan manajemen operasi dan pemeliharaan sistem.
c. Mampu mengevaluasi, mengukur, memodifikasi, prossedur/system customer
handling untuk tercapainya efektifitas cutomer handling untuk setiap pelanggan.
d. Mampu mengembangkan kriteria pekerjaan autsourcing eksisting dengan
mempertimbangkan kapabilitas internal dan eksternal sejalan dengan perubahan
lingkungan bisnis yang kompetitif dan turbulens.
2. Manajer Access area, Tugas manajer Acces Area antara lain :
a. Monitoring anggaran operasional akses
b. Monitoring kelancaran operasional di lapangan
c. Menjustifikasi/ memutuskan hal-hal yang target untuk di eksekusi
3. Manajer Operasional, Tugas manjer operasional :
a. Merencanakan sasaran dan ruang lingkup project serta merinci aktivitas
project dan penjadwalannya. Mampu melakukan monitoring dan reporting
pelaksanaan project.
b. Mengevaluasi kinerja systemcopper dan DSL Access Network dan memberikan
solusi optimal sistem
c. Mengevaluasikan kinerja sistem CPE dan memberikan solusi optimalisasi
sistem.
d. Menganalisis statistika gangguan dan menyusun progam penangan layanan
pelanggan secara efektifitas dan efesien.
e. Menganalisis secara statistika performasi layanan secara menyeluruh dan
membuat rekomendasi solusi peningkatan performasi layanan.
4. Manajer outsourching, Tugas outsourching antara lain :
a. Mangevaluasi kinerja sistem copper dan DSL Access Network dan memberikan
solusi optimalisasi sistem.
b. Menganalisa dampak penerapan peraturan dan kebijakan yang berlaku.
c. Menganalisa pelaksanaan outsourching eksisting dan sesuai dengan
strategi kebijakan makro bidang SDM dan lingkungan bisnis.
d. Mengidentifikasi partnership management yang tepat untuk perencanaan dan
pengembangan kemitraan/ analisis untuk mendukung strategi perusahaan untuk
implementasinya.
5. Manager optimalisasi, Tugas manager optimalisasi antara lain :
a. Mengevaluasi kinerja system copper dan DSL Access Network dan memberikan
solusi optimalisasi system.
b. Mengevaluasi kinerja system CPE dan memberikan solusi optimalisasi
system.
c. Mengevalusi kinerja system optical Access Network (OAN) dan memberikan
solusi optimalisasi system.
d. Mengalokasikan sumber daya dan memprediksi utilitas masinng-masing
sumber daya untuk mencpai sasaran secara optimal . Mampu memprediksi anggaran
project.
e. Mengevalusi desain wirwline acces network sesuai dengan kebutuhan dan
kebijakan perusahaan serta mampu membuat analisis kapabilitas dan menyusun
project plan implementasi.
6. Manager Gudang, Tugas manager gudang antara lain :
a. Menerapkan perencanaan dan implementasi internal control.
b. Melaksanakan pengelolaan
inventory management.
c. Menyusun produk hukum sesuai metode legal drafting.
d. Menganlisis efekifitas dan efesiensi pengelolaan sumber penerimaan dan
penggunaan kas, penyusunan proyeksi kas serta optimalisasi idle cash.
e. Menganalisis proses pengelolaan dokumen sesuai dengan standar yang
berlaku.
f. Mampu menganalisis hasil hasil negosiasi dan memelihara hubungan yang
positif dengan pihak lain dalam menyelesaikan masalah.
7. Asman CCA, Tugas Asman CCA anatara lain :
a. Pemeliharaan saluran data dan internet.
b. Perbaikan saluran pelanggan cluster.
c. Pemeliharaan saluran LC (Led Cenal).
8. Asman CAM (Cooper Acces Maintenace), Tugas Asman CAM antara ain :
a. Pemeliharaan kabel primer dan sekunder tembaga.
b. Penanggulangan gangguan kabel primer dan sekunder.
c. Pembenahan jaringan.
9. Asman MFRAN (Maintenance Fiber and Radio Access Network, Tugas Asman
MFRAN antara lain :
a. Pemeliharaan kabel optik dan radio.
b. Penanggulangan gangguan kabel fiber optic dan radio.
c. Monitoring availability perangkat MSOAN dan MSAN.
10. Asman Daman (Data Management), Tugas Asman Daman antara lain :
a. Purifikasi data jaringan.
b. Updating gambar skematik.
11. Asman CPE (Customer Premise Equipment), Tugas Asman CPE antara lain :
a. Memonitor pasangan baru speedy sudah terinstall dengan baik dan benar.
b. Mengendalikan gangguan speedy agar tetap sesuai dengan tolak ukur.
c. Mengoptimalkan perangkat yang layak untuk broadband.
12. Asman TOS (Technical Operation Support), Tugas Asman TOS antara lain :
a. Mengkompulir kebutuhan material operasional penanggulangan gangguan.
b. Mengendalikan anggaran dan kebutuhan operasional.
13. SVP CPE, Tugas SVP CPE antara lain :
a. Instalsi pasang baru speedy.
b. Penanggulangan gangguan speedy sampai dengan perangkat pelanggan.
14. SVP Publik Phone, Tugas SVP Publik Phone antara lain :
a. Pemeliharaan telepon umum coin dan kartu.
b. Pasang baru telepon umum coin dan kartu.
c. Memilihara availability perangkat telepon umum agar tetap handal 100%.
3.3 Job Specification PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
Spesifikasi jabatan, merupakan suatu
informasi tentang syarat – syarat yang diperlukan agar dapat mengaku
suatu jabatan dengan baik.
1. Management Traine, Persyaratan :
a. Pendidikan : S1 (IPK minimal 3.00 dan usia maksimal 25), S2 (IPK minimal
3.50 dan usia maksimal 29 tahun).
b. Jurusan : Teknik informatika, Teknik Elektro, Teknik Telekomunikasi,
Teknik Industri, Psikologi (khusus S2), Ilmu komunikasi, Manajemen.
c. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah kerja Telkom.
d. Belum pernah mengikuti seleksi Telkom.
2. Network Engineer, Persyaratan :
a. Warga Negara Indonesia.
b. Alumni institut teknologi sepuluh nopember (ITS).
c. Telah menyelesaikan studi, dengan melampirkan ijazah atau SKL (Surat
Keterangan Lulus).
d. Pendidikan : S1/ S2.
e. Jurusan : Teknik Elektro – Telekomunikasi.
f. IPK : S1 = min 3.0 (skala 4.0), S2 = 3.25 (skala 4.0).
g. Usia Maks : S1 = 25 tahun, S2 = 29 tahun (per 1 Juli 2013).
h. Bersedia ditempatkan diseluruh wilayah kerja PT. Telkom.
i.
Belumm pernah mengikuti seleksi calon
karyawan PT. Telkom.
3. Information Technology Engineer, Persyaratan :
a. Warga Negara Indonesia.
b. Alumni institute teknologi sepuluh nopember (ITS).
c. Telah menyelesaikan studi, dengan melampirkan ijazah atau SKL (Surat
Keterangan Lulus).
d. Pendidikan : S1 / S2.
e. Jurusan : Teknik informatika.
f. IPK : S1 = min 3.0 (skala 4.0), S2 = 3.25 (skala 4.0).
g. Usia maks : S1 = 25 Tahun, S2 = 29 tahun (per 1 juli 2013).
h. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah kerja PT. Telkom.
i.
Belum pernah mengikuti seleksi calon karyawan
PT. Telkom.
4. Marketing Officer, Persyaratan :
a. Warga Negara Indonesia
b. Alumni institute teknologi sepuluh nopember (ITS).
c. Telah menyelesaikan studi, dengan melampirkan ijazah atau SKL (Surat
Keterangan Lulus).
d. Pendidikan : S1 / S2.
e. Jurusan : Teknik Industri.
f. IPK : S1 = min 3.0 (skala 4.0), S2 = 3.25 (skala 4.0).
g. Usia Maks : S1 = 25 Tahun, S2 =
29 Tahun (per 1 juli 2013).
h. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah kerja PT. Telkom.
i.
Belum pernah mengikuti seleksi calon karyawan
PT. Telkom.
5. Marketing Officer, Persyaratan :
a. Indonesia jurusan citizen S1/S2 Manajemen / Manajemen Bisnis (UI , UGM ,
ITB), Teknik industry (ITB,ITS).
b. Terlampir ijasah (Cerificate Akademis) Atau SKL (Surat Keterangan
Lulus).
c. Min IPK 3.00 (S1) Dan 3,25 (S2).
d. Max umur 25 Tahun (s1) Dan 29 Tahun (S2) Per 1Juli 2013.
e. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah kerja PT Telkom.
f. Pernah Berpartisipasi Dalam Tes seleksi di PT Telkom.
6. Accounting Officer, Persyaratan :
a. Citizen S1 Bahasa Indonesia / S2 Jurusan Akuntansi (UI)
b. Terampir ijasah (Cerificate Akademis) Atau SKL (Surat Keterangan Lulus)
c. Min IPK 3.00 (S1) Dan 3,25 (S2)
d. Max Umur 25 Tahun (s1) Dan 29 Tahun (S2) per 1 juli 2013
e. Bersedia Ditempatkan Di seluruh Wilayah Kerja PT Telkom
f. Pernah berpartisipasi dalam tes seleksi di PT Telkom
7. Legal Dan Compliance Officer, Persyaratan :
a. Indonesian citizen jurusan S1/S2 Hukum (UI , UGM)
b. Terlampir ijasah (Cerificate Akademis) Atau SKL (Sertifikat Wisuda)
c. Min IPK 3.00 (s1) Dan 3.25 (S2)
d. Max Umur 25 Tahun (s1) Dan 29 Tahun (S2) Per 1 juli 2013
e. Bersedia Ditempatkan Di seluruh wilayah kerja PT Telkom
f. Pernah Berpartisipasi Dalam Tes sleksi persyaratan Di PT Terkom
8. Assessment Center Petugas, Persyaratan :
a. Jurusan Citizen S1/S2 indonesia Di psikologi (UGM)
b. Terlampir ijasah ( Cerificate Akademis) Atau SKL (Surat Keterangan
Lulus)
c. Min IPK 3.00 (S1) Dan 3,25 (S2)
d. Max Umur 25 Tahun (S1 Tua) Dan 29 Tahun (S2) Per 1 juli 2013
e. Bersedia Ditempatkan Di seluruh wilayah kerja PT Telkom
f. Pernah berpartisipasi dalam tes seleksi di PT Telkom
9. Finance Officer, Persyaratan :
a. Jurusan Citizen S1/S2 Indonesia di bidang akuntansi , manajemen ,
keuangan (UGM)
b. Terlampir ijasah (Cerificate akademis) Atau SKL ( Surat keterangan
lulus)
c. Min IPK 3.00 (S1) Dan 3,25 (S2)
d. Usia mak 25 tahun (S1) Dan 29 Tahun (S2) Per 1 juli 2013
e. Bersedia Ditempatkan di seluruh wilayah kerja PT Telkom
f. Pernah Berpartisipasi Dalam Tes Seleksi Di Pt Telkom
10. Jobs Description, Persyaratan :
a. Pria/Wanita
b. Usia Max 27 Tahun
c. Min D3 dengan IPK min 2.50 (PTN) atau 2.75 (PTS)
d. Tinggi dan Berat badan (Pria min 170cm dan perempuan min 165cm)
e. Good Looking
f. Mampu mengoperasikan computer
g. Aktif berbahasa inggris
h. Sehat jasmani dan rohani
i.
Bersedia berkerja dalam shifting dan di
tempatkan di jabotabek
j.
Lulus dan serangkaian seleksi
11. Profgammer Project PT. Telkom, Persyaratan :
a. Requirements Male/ Female
b. Max 30 years old
c. D3/ S1 majoring in informatics Engineering/ Computer science
d. Ore other related majors Ekperinced as programmer ( at least once to
make the application/ program )
e. Have a god knowledge of Jave Familiar with Javascripts ( AJAX, JSON),
MS-SQL, PHP Prefebly fresh Graduate/ entery level
f. Ready to work immedidiately Ready to follow the selection process immediately
Willing to join in programmer project Team.
12. Marketing Supprort Requirements
a. Pria memiliki kemampuan komunikasi yang baik, jujur, disiplin dan
orientasi pada target kreatif dan mempunyai selera yang bagus tentang website (
dari segi design, layout, konten )
b. Minimal pendidikan Diploma Mengusi computer Sofware Microsoft Office (
Word, Powerpoint, Excel )
c. Wajib memiliki skill design, grafis dan lain-lain ( Photoshop, Corel
Draw)
d. Memiliki kemampuan verbal dan menulis yang baik memiliki skil pembuatan
reporting dan ketelitian terbiasa dengan social media (Facebook, Twitter, Path,
etc). Bisa menulis untuk konten punya akun social media (Facebook dan Twitter)
serta aktif diberbagai forum komunitas digital.
13. Accounting Officer
a. WNI (Warga Negara Indonesia)
b. Telah menyelesaikan studi dengan melampirkan ijazah atau SKL (Surat
Keterangan Lulus) Pria atau Wanita
c. Pendidikan S1/S2
d. Fakultas Ekonomi jurusan akuntansi
e. IPK untuk S1 minimal 3.0 dan S2 minimal 3.25
f. Bersedia ditempatkan diseluruh wilayah kerja PT. Telkom
g. Belum pernah mengikuti seleksi calon karyawan PT. Telkom
14. Legal dan Compliance Officer
a. WNI (Warga Negara Indonesia)
b. Telah menyelesaikan studi dengan melampirkan ijazah atau SKL (Surat
Tanda Kelulusan) Pria atau Wanita
c. Pendidikan S1/S2
d. Fakultas Hukum
e. IPK untuk S1 minimal 3.0 dan S2 minimal 3.25
f. Usia Maksimal S1 : 25 dan S2 : 29
g. Bersedia ditempatkan diseluruh wilayah kerja PT. Telkom
h. Belum pernah mengikuti seleksi calon karyawan PT. Telkom
15. Marketing Officer
a. WNI (Warga Negara Indonesia)
b. Telah Menyelesaikan studi dengan melampirkan ijazah atau SKL ( Surat
Tanda Kelulusan)
c. Pendidikan S1/S2
d. Fakultas Ekonomi jurusan manajemen/bisnis
e. IPK untuk S1 minimal 3.0 dan S2 minimal 3.25
f. Usia maksimal S1 : 25 dan S2 : 29
g. Bersedia ditempatkan diseruluh wilayah kerja PT. Telkom
h. Belum pernah mengikuti seleksi calon karyawan PT. Telkom
3.4 Sistem Kerja PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
Untuk mewujudkan komitmen penerapan tata
kelola perusahaan yang baik khususnya penerapan prinsip akuntabilitas, Telkom
mengelola pertanggung jawaban kinerja
karyawan dalam sebuah sistem manajemen performansi karyawan sesuai yang diatur
pada kebijakan peusahaan Kd.66/2006. Sesuai dengan maksud dan tujuan kebijakan
ini, maka azas obyektif adil dan transparan diterapkan mengacu pada pedoman
pengukuran dan penilaian kerja yang bertanggung jawab dalam mekanisme kontrak
manajemen, penetapan indikator kinerja sesuai ruang lingkup tugas dan peran
unit dan individu di organisasi dan penetapan target yang disepakati mengacu
pada target kinerja perusahaan yang telah ditetapkan dalam rencana perusahaan.
Target kinerja disusun berdasarkan rencana
perusahaan dan diturunkan secara berjenjang ditingkat unit, sub unit sampai
dengan karyawan dengan memperhatikan prinsip Specific, Measurable, Achievable,
Realistic dan Time Related (SMART). Sedangkan evaluasinya dilakukan secara
berkala (harian, mingguan, bulanan, triwulan, tahunan) sesuai indikator kinerja
yang diukur dalam mekanisme pengelolahan manajemen yang di dukung beberapa
aplikasi secara online.
Penerapan kontrak manajemen yang
ditetapkan dengan bisnis balanced scorecard digunakan untuk menilai pertanggung
jawaban kinerja direksi, pemimpin tertinggi, pemimpin senior/unit dan karyawan
dan selanjutnya menjadi acuan penetapan remunerasi. Evaluasi kontrak manajemen
dilakukan setiap triwulan yang pencapainnya diukur melalui aplikasi pedoman
kinerja pada tahun 2011, sistem ini tetap dipertahankan dan terus disempurnakan
kualitasnya dari waktu ke waktu.
Adapun sistem kerja dan kebijakan dari PT.
Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Diera globalisasi ini PT. Telkom telah merubah
kebijakan sistem kerja karyawan yaitu dengan menciptakan anak perusahaan atau
berbentuk Mitra, dimana didalam perusahaan Telkom yang beralih menjadi perusahaan
yang berbentuk mitra ini karyawan PT. Telkom tidak menetap disatu perusahaan
tertentu. Para karyawan PT .Telkom saat ini lebih banyak meninjau kelapangan
secara langsung dengan melakukan rolling atau perputaran karyawan.
Menghadapi persaingan yang ketat pada saat
ini PT. Telkom lebih bijak dalam melakukan perencanaan SDM, dimana mereka lebih
memilih karyawan – karyawan yang sesuai dengan kebutuhan
perusahaan. PT. Telkom melakukan perencanaan SDM dengan melihat kualifikasi
yang mengikuti perkembangan zaman, Semakin berkembangnya zaman PT. Telkom tidak
menetapkan kualifikasi secara tetap dari segi pendidikan formal maupun non
formal.
3.5 Evaluasi Perencanaan Sumber Daya Manusia PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
Jumlah karyawan yang ada di PT.
Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Sekitar 600 sedangkan berdasarkan metode
perhitungan rasio, jumlah karyawan yang ada seharusnya berkisar 500 sampai 700
karyawan. Dengan kata lain perlu dilakukan penambahan karyawan berdasarkan
jenis- jenis dan bagian atau bidang yang ditanganinya. Penambahan jumlah
karyawan yang dilakukan dengan perekrutan internal ataupun eksternal yang
disertai dengan seleksi. Dengan begitu maka PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
akan mengalami peningkatan kualitas di bidang SDM.
Perencanaan
SDM juga harus memperhatikan kendala
– kendala yang ada seperti
standar kemampuan SDM, manusia itu sendiri, situasi SDM serta peraturan
pemerintah. Apabila kendala ini dapat dihindarkan maupun diatasi maka
perencanaan SDM akan bermanfaat untuk memajukan PT. Telekomunikasi Indonesia,
Tbk
3.6 Manajemen Ruang Lingkup STI
Dalam merencanakan proyek sistem dan
teknologi informasi, PT Telkom memiliki proses manajemen ruang lingkup, yaitu :
1. Perencanaan lingkup proyek sistem dan teknologi informasi
2. Pengumpulan persyarakat proyek
3. Pendefinisian ruang lingkup proyek
4. Perancangan WBS
5. Verifikasi ruang lingkup proyek
6. Pengendalian ruang lingkup proyek
Berikut
merupakan rincian dari tahapan perencanaan ruang lingkup PT Telkom: Ruang
lingkup bisnis kegiatan Perusahaan adalah menyelenggarakan jaringan dan layanan
telekomunikasi, infomatika serta optimalisasi sumber daya Perusahaan. Untuk
mencapai tujuan tersebut di atas, Perusahaan menjalankan kegiatan usaha yang
meliputi:
1. Usaha Utama
a. Merencanakan, membangun. menyediakan, mengembangkan, mengoperasikan,
memasarkan atau menjual menyewakan dan memelihara jaringan telekomunikasi dan
informatika dalam arti yang seluas-luasnya dengan memperhatikan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
b. Merencanakan, mengembangkan, menyediakan, memasarkan atau menjual dan
meningkatkan layanan jasa telekomunikasi dan informatika dalam arti yang
seluas-luasnya dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Usaha Penunjanga
a. Menyediakan layanan transaksi pembayaran dan pengiriman uang melalui
jaringan telekomunikasi dan informatika.
b. Menjalankan kegiatan dan usaha lain dalam rangka optimalisasi sumber
daya yang dimiliki Perusahaan, antara lain pemanfaatan aset tetap dan aset
bergerak, fasilitas sistem informasi, fasilitas pendidikan dan pelatihan dan
fasilitas pemeliharaan dan perbaikan
3.7
Manajemen Mutu Proyek STI
1.
Pengelolaan Proses Berstandar ISO :
Sejak tahun
1996, kami secara konsisten telah menerapkan sistem manajemen mutu berbasis ISO
dan pada tahun 2001 penerapannya diintegrasikan dengan kriteria keunggulan
kinerja berbasis Malcolm Baldrige. Penerapan kedua sistem manajemen
mutu tersebut (ISO dan Malcolm Baldrige) tidak lain adalah untuk
membangun proses tata kelola dan akuntabilitas kinerja melalui penerapan
disiplin proses dan pendokumentasian yang baik berbasis ISO dan peningkatan
keunggulan kinerja Perusahaan mengacu pada penilaian keunggulan kinerja Malcolm
Baldrige. Tahun 2013 Perusahaan dinilai keunggulan kinerjanya oleh Tim
penilai KPKU dari Kementerian BUMN dan secara internal dilakukan penilaian
sendiri (self assessment) pada
tingkat Unit Bisnis/Divisi. Berikut ini merupakan kebijakan mutu pada PT.
Telkom
·
PT.
Telkom Akses menjamin kepuasan
setiap pelanggan, baik itu institusi maupun pelanggan akhir serta kepuasan
stakeholder melalui komitmen seluruh jajaran Telkom Akses dalam
menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO9001:2008.
·
PT.
Telkom Akses memiliki komitmen
memberikan layanan terbaik melalui pengelolaan ekselen jasa konstruksi dan
manage service sesuai persyaratan Sistem Manajemen Mutu ISO
9001:2008 yang ditetapkan yang berorientasi kepada tepat mutu, tepat waktu dan
tepat volume.
·
PT.
Telkom Akses Meningkatkan mutu dan
kinerja melalui perbaikan secara berkesinambungan dalam rangka
memenuhi persyaratan, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan stakeholder serta
mendorong pencapaian tujuan perusahaan baik jangka pendek maupun jangka
panjang.
·
PT.
Telkom Akses akan meninjau kesesuaian
Kebijakan dan Sistem Manajemen Mutu secara berkala sesuai dengan
perkembangan Perusahaan.
3.8
Manajemen
Waktu Proyek STI
Berikut ini
merupakan estimasi rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk proyek TI di PT Telkom
Indonesia.
3.9 Manajemen Biaya Proyek STI
Dalam melaksanakan proyek STI, PT Telkom merencanakan anggaran biaya maksimal yang dapat digunakan untuk pelaksanaan masing-masing proyek STI. Berikut ini merupakan estimasi biaya maksimal untuk setiap proyek sistem teknologi dan informasi di PT Telkom:
Note:
·
Biaya
di atas merupakan estimasi biaya maksimal untuk setiap proyek.
·
Biaya
perlengkapan terkait dengan kebutuhan software dan hardware yang dibutuhkan
untuk menunjang pelaksanaan proyek STI PT Telkom.
·
Biaya
perawatan merupakan biaya maksimal untuk maintenance dengan jangka waktu 3
bulan.
3.10
Manajemen
Sumber Daya Manusia
Estimasi
kebutuhan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia adalah maksimal sebanyak 5 orang
yang bekerja sesuai dengan kemampuannya. Penyusunan Human Capital
Master Plan juga didasarkan pada analisis penawaran dan permintaan
yang akurat serta terukur, yaitu dengan menggunakan referensi data acuan,
terutama acuan rasio produktivitas pada beberapa Perusahaan sejenis. Informasi
yang ada dalam Human Capital Master Plan Telkom Group terdiri
dari:
·
Proyeksi
mengenai jumlah human capital yang dihitung berdasarkan
portofolio bisnis selama periode lima tahun ke depan.
·
Proyeksi
tentang komposisi human capital secara rinci dengan mengacu
pada komposisi job stream, pendidikan, usia dan jabatan.
·
Rencana
ketenagakerjaan yang berisi rencana SDM tahunan di masing-masing Perusahaan
yang termasuk jajaran Telkom Group.
Strategi pengelolaan SDM menekankan
pada harmonisasi jumlah dan kompetensi SDM searah dengan portofolio bisnis yang
semakin fokus pada TIMES. PT Telkom juga berupaya meningkatkan sinergi dan
efisiensi di antara Perusahaan di jajaran Telkom Group dan terus menekankan
penerapan nilai-nilai Perusahaan yang telah ditetapkan. Upaya ini
diimplementasikan dengan menyusun rencana pengalokasian karyawan untuk lima
tahun ke depan dan rencana ketenagakerjaan setiap tahun agar dapat memberikan
informasi yang lebih akurat untuk mendukung kemajuan usaha perusahaan.
Rencana
ketenagakerjaan disusun dengan mengidentifikasi kebutuhan karyawan, yang
mengacu pada Human Capital Plan atau Rolling Human
Capital Plan Telkom Group. Fokus dari rencana ketenagakerjaan adalah
pada peningkatan produktivitas dan efisiensi dengan merujuk pada acuan yang
kompetitif. Kami berharap dapat meningkatkan efisiensi dengan mengurangi jumlah
tenaga kerja yang ada di samping tetap melakukan rekrutmen sekitar 20% dari
jumlah karyawan yang keluar.
Pengembangan Kompetensi SDM
1.
Competency Based Human Resources Management (”CBHRM”)
Kami telah menetapkan strategi
pengembangan kompetensi human capital yang dituangkan dalam Human
Capital Master Plan, yang senantiasa diperbaharui setiap tahunnya guna
menyesuaikan dengan dinamika bisnis Perusahaan. Pelaksanaannya juga
diselaraskan dengan strategi bisnis yang berdasarkan kepada Corporate
Strategic Scenario (“CSS”), Master Plan for Human Capital (“MPHC”), Human
Capital Development Plan (“HCD Plan”), transformasi organisasi serta
kondisi keuangan Perusahaan. Model CBHRM terdiri atas Core Competency (values), Generic
Competency (Personal Quality), dan Specific
Competency (Skill & Knowledge). Ketiga model ini
dikembangkan dan disempurnakan untuk mendukung penilaian kemampuan pegawai
secara adil dan transparan. Pengembangan kompetensi karyawan dititikberatkan
pada hal-hal berikut ini:
·
Pengembangan
Character yang didasarkan pada budaya perusahaan The Telkom Way yang
berlandaskan pada filosofi To be The Best (Ihsan), Principle
to be The Star (Solid, Speed, Smart) dan Practices
to be the Winner (Imagine, Focus, Action).
·
Pengembangan Competence yang
berstandar global.
·
Pengembangan Chiefship (Leadership)
yang didasarkan pada Telkom Leadership Architecture yang
berlandaskan prinsip Lead by Heart dan Manage by Head.
3.11
Manajemen
Komunikasi Proyek STI
Memahami dan mengerti
kebutuhan serta ekspektasi pemangku kepentingan adalah bagian penting dari
pengelolaan GCG untuk mewujudkan kesetaraan berkeadilan bagi pemangku
kepentingan. Melalui budaya perusahaan “The Telkom Way”, manajemen berusaha
untuk menumbuhkan tata nilai dan budaya Perusahaan dengan cara pemahaman
dikalangan karyawan akan nilai-nilai yang harus senantiasa disampaikan kepada
semua pemangku kepentingan dan menjadikannya sebagai pusat inspirasi termasuk
norma dan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan.
3.12
Manajemen
Resiko Proyek STI
Sejak
2006, kami telah menerapkan manajemen risiko mengacu kepada kerangka kerja COSO Enterprise
Risk Management. Dalam penerapannya, manajemen risiko adalah bagian yang
tidak dapat dipisahkan dari penerapan GCG dan pengendalian internal di
perusahaan.
Visi
Perusahaan terkait dengan penerapan manajemen risiko adalah: “Menjadikan
pengelolaan risiko sebagai BUDAYA YANG MELEKAT dalam pelaksanaan proses bisnis
dan operasional”. Untuk itu, sejak tahun 2008 kami telah membangun dan
mengembangkan:
·
Aspek
Struktural meliputi
pengembangan visi manajemen risiko, misi, komitmen, tone at the top,
lingkungan internal yang kondusif, kebijakan, pengembangan kompetensi,
IT tools dan kesisteman.
·
Aspek
Operasional meliputi
penentuan Risk Acceptance Criteria, pelaksanaan Risk
Assessment dan pengembangan manajemen risiko untuk fungsi spesifik.
·
Aspek
Perawatan meliputi monitoring implementasi
manajemen risiko, pelaporan berkala (risk reporting), menjaga
pengembangan kompetensi yang berkelanjutan. Serta melakukan review melalui Risk
Management Index, Survei Budaya Risiko maupun penilaian Tingkat Maturitas
Implementasi.
Saat ini implementasi
manajemen risiko telah mencapai tingkatan dimana manajemen risiko telah
diintegrasikan di seluruh entitas Perusahaan. Ke depan kami telah
menyusun road map pengembangan Entity Risk Management sebagai
berikut:
·
2013
: peningkatan ERM Maturity Level pada initial Stage
Quantified Level.
·
2014
: peningkatan ERM Maturity Level pada intermediate
Stage Quantified Level.
·
2015
: peningkatan ERM Maturity Levelpada advanced stage
Quantified Level.
·
2016
: peningkatan ERM Maturity Level masuk ke Optimized
Level.
3.13
Manajemen
Pengadaan Proyek STI
Proses
Pengadaan Barang dan/atau jasa PT Telkom
Pada tahap menentukan spesifikasi,
PT Telkom tidak dihadapkan pada pilihan untuk membuat sendiri barang/jasa yang
dibutuhkan, tapi membeli kepada perusahaan-perusahaan yang menjual alat
produksi atau jasa tertentu, seperti bantuan teknis, pemborongan, dan
lain-lain. Menurut Pedoman Pelaksanaan Pengadaan tahun 2011, PT Telkom hanya
melakukan pengadaan melalui tiga cara, yaitu pelelangan, pemilihan langsung dan
penunjukan langsung. Metode pembelian langsung memang sebaiknya tidak perlu
diterapkan karena mayoritas alat produksi yang diperlukan adalah jenis
barang/jasa yang sangat spesifik dan berteknologi tinggi, sehingga penjual
barang/jasa tersebut sangat sedikit. Kondisi tersebut menyebabkan harga
barang/jasa tidak terlalu ditentukan oleh mekanisme pasar, selayaknya tujuan
dari pembelian langsung. Dari 3 cara pengadaan yang dapat dilakukan, sebagian
besar pengadaan menggunakan cara penunjukan langsung. Ini juga dikarenakan
barang/jasa yang spesifik dan berteknologi tinggi, serta riwayat pengadaan
sebelumnya untuk barang/jasa yang sama menggunakan penunjukan langsung. Menurut
penulis, metode penunjukan langsung ini kurang efisien karena menyebabkan
kurangnya bargaining power yang
dimiliki PT Telkom, sehingga berdampak pada harga barang/jasa. Sebaiknya PT
Telkom meningkatkan pengadaannya melalui pelelangan atau
pemilihan langsung, karena dengan semakin banyaknya peserta pengadaan,
secara tidak langsung akan meningkatkan kemampuan tawar menawar PT Telkom
dengan peserta pengadaan tersebut.
Proses pemilihan supplier yang dilakukan PT Telkom
terhadap peserta pengadaan telah diatur melalui beberapa tahap yang detail,
salah satunya dibuktikan dengan adanya evaluasi awal terhadap peserta pengadaan
sebelum melakukan negosiasi harga. Selain itu, kriteria supplier yang dirumuskan PT Telkom sudah sangat lengkap,
seperti harus memiliki NPWP, membayar pajak, tidak dalam pengawasan, tidak
pailit, memiliki track record yang
baik, menandatangani pakta integritas, dan kriteria lainnya. PT Telkom juga
telah mengatur tentang peserta pengadaan asing yang tidak memiliki NPWP
dengan cara mengganti dengan dokumen lain yangsejenis.Pada penyusunan kontrak/
perjanjian dengan supplier , MSC telah memuat ketentuan-ketentuan kontrak
yang seharusnya dan akan dijelaskan pada analisis selanjutnya mengenai pokok
dan prosedur kontrak.
Setelahmenandatangani surat kontrak, supplier
harus membayarkan jaminan pelaksanaan sebesar 5-7% dari total harga pembelian
untuk mengurangi tingkat risiko bagi Telkom. Dalam pengawasan kualitas
barang/jasa, MSC telah melakukan evaluasisebagai pengukuran performa
supplier.
PT Telkom tidak hanya mengevaluasi
diakhir pelaksanaan pekerjaan, namun juga pada persyaratan administrasi sebelum
pemilihan supplier yang tepat dan sesuai. Pada evaluasi akhir pelaksanaan,
PT Telkom menggunakan tiga pendekatan, yaitu metode evaluasi harga terendah,
evaluasi sistem nilai, dan evaluasi khusus metode penunjukan langsung. Pada
metoda penunjukan langsung, PT Telkom sulit untuk menilai harga yang tepat
dan wajar karena evaluasi hanya sebatas keabsahan dan/atau kebenaran aritmatik.
Sebaiknya MSC menetapkan standar harga untuk barang
/jasa tertentu yang hanya bisa dibeli menggunakan
metoda penunjukan langsung, tentunya dengan prinsip ketepatan dan kewajaran
harga.
Kesimpulan yang berkaitan dengan
proses pengadaan secara umum dan kontrak pengadaan barang/jasa,
antara lain sebagai berikut:
a.
Pengadaan
Barang dan Jasa (Procurement)
1.
PT
Telkom telah menerapkan secara rinci pengadaan barang/jasa, yang dimulai dari define specification, select supplier,
contract agreement, ordering, expediting, evaluation.
2.
Pada
pengadaan melalui penunjukan langsung, PT Telkom hanya melakukan evaluasi harga
dengan cara menilai keabsahan dan/atau kebenaran aritmatik, sehingga sulit
untuk menilai harga yang tepat dan wajar.
b.
Jenis
Perjanjian/ Kontrak pengadaan Barang dan/atau Jasa
PT Telkom
hanya menggunakan dua jenis kontrak, yaitu berdasarkan pola perjanjian dan
jangka waktu pelaksanaan. Pada jenis kontrak berdasarkan pola perjanjian,
PT Telkom hanya mencantumkan jenis kontrak KHS danTurn Key.
c.
Pokok
dan Prosedur Perjanjian/Kontrak Pengadaan Barang dan/atau Jasa
1.
PT
Telkom telah mencantumkan pokok dan prosedur kontrak dengan rinci sesuai dengan
teori menurut Sutedi, antara lain dimulai dengan judul perjanjian, pembukaan,
pihak-pihak dalam perjanjian, Recital, isi perjanjian, dan penutup.
2.
Dalam
isi perjanjian, PT Telkom telah memuat berbagai ketentuan yang dijelaskan dalam
pasal-pasal perjanjian. Isi perjanjian tersebut juga disesuaikan dengan
jenis pekerjaan, artinya terdapat beberapa perbedaan pada isi pasal antara
pengadaan barang dengan pengadaan jasa, misalnya pasal kerusakan dan kerugian.
3.14
Manajemen
Integrasi Proyek STI
Berikut merupakan manajemen
integrasi proyek sistem teknologi dan informasi pada PT Telkom, antara lain:
1.
Mengembangkan
carta proyek: Bekerja dengan para pemangku kepentingan untuk menciptakan
dokumen yang secara formal memberikan wewenang kepada proyek – Carta Proyek.
2.
Mengembangkan
pernyataan lingkup awal proyek : Bekerja dengan pemangku kepentingan, khususnya
pengguna produk, jasa, atau hasil proyek, untuk mengembangkan ruang lingkup
tingkat tinggi persyaratan dan membuat pernyataan lingkup awal proyek.
3.
Mengembangkan
rencana pengelolaan proyek: Mengkoordinasikan segala upaya perencanaan untuk
menciptakan dokumen yang konsisten dan koheren – Rencana Manajemen Proyek.
4.
Mengatur
dan mengelola eksekusi proyek: Melaksanakan rencana pengelolaan proyek dengan
melakukan kegiatankegiatan yang termasuk di dalamnya.
5.
Memantau
dan mengendalikan pekerjaan proyek: Mengawasi pekerjaan proyek untuk memenuhi
sasaran kinerja proyek.
6.
Melaksanakan
pengendalian perubahan terpadu: Mengkoordinasi perubahan yang mempengaruhi hasil
proyek dan aset-aset proses organisasi.
7.
Menutup
proyek: Mengakhiri semua aktivitas proyek untuk menutup proyek secara formal.
4. KESIMPULAN
Sistem
kerja dan kebijakan dari PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Diera globalisasi
ini PT. Telkom telah merubah kebijakan sistem kerja karyawan yaitu dengan
menciptakan anak perusahaan atau berbentuk Mitra, dimana didalam perusahaan
Telkom yang beralih menjadi perusahaan yang berbentuk mitra ini karyawan PT.
Telkom tidak menetap disatu perusahaan tertentu. Para karyawan PT .Telkom saat
ini lebih banyak meninjau kelapangan secara langsung dengan melakukan rolling
atau perputaran karyawan.
Perencanaan
sumber daya manusia dicirikan oleh suatu keterkaitan utama antara perencanaan
strategis dan manajemen sumber daya manusia. Perencanaan SDM merupakan proses
pengambilan keputusan dalam menyewa dan menempatkan staf dalam perusahaan.
Keduanya melibatkan rancangan kerja, rekrutmen, skrining, kompensasi,
pelatihan, promosi dan kebijakan pekerjaan.
Memahami
dan mengerti kebutuhan serta ekspektasi pemangku kepentingan adalah bagian
penting dari pengelolaan GCG untuk mewujudkan kesetaraan berkeadilan bagi
pemangku kepentingan. Melalui budaya perusahaan “The Telkom Way”, manajemen
berusaha untuk menumbuhkan tata nilai dan budaya Perusahaan dengan cara
pemahaman dikalangan karyawan akan nilai-nilai yang harus senantiasa
disampaikan kepada semua pemangku kepentingan dan menjadikannya sebagai pusat
inspirasi termasuk norma dan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan.
Saat
ini implementasi manajemen risiko telah mencapai tingkatan dimana manajemen
risiko telah diintegrasikan di seluruh entitas Perusahaan. Ke depannya PT Telkom telah menyusun road map pengembangan Entity
Risk Management sebagai berikut:
·
2013 : peningkatan ERM Maturity Level pada
initial Stage Quantified Level.
·
2014 : peningkatan ERM Maturity Level pada
intermediate Stage Quantified Level.
·
2015 : peningkatan ERM Maturity Levelpada
advanced stage Quantified Level.
·
2016 : peningkatan ERM Maturity Level masuk ke
Optimized Level.
DAFTAR
PUSTAKA
Manajemen Proyek PT Telkom Indonesia
Tbk. (t.thn.).
Dipetik Oktober 2021, dari repository.telkomuniversity.ac.id:
https://repository.telkomuniversity.ac.id/pustaka/files/146201/bab1/perancangan-quality-metric-untuk-control-quality-menggunakan-metode-internal-control-pada-proyek-revitalisasi-fiber-termination-management-ftm-pt-telkom-indonesia.pdf
Gie.
(2020, Februari 24). Manajemen Proyek : Pengertian, Tujuan, Sasaran, Ruang
Lingkup, dan Contohnya. Dipetik Oktober 2021, dari accurate.id:
https://accurate.id/marketing-manajemen/pengertian-manajemen-proyek/
Edisi
Proyek, Manajemen Proyek dan 6 Prinsipnya. (2021, Agustus 3). Dipetik Oktober 2021, dari
tomps.id: https://tomps.id/definisi-proyek-manajemen-proyek-dan-6-prinsipnya/
Septiyono,
M. (t.thn.). Analisa Manajemen Proyek TI PT Telekomunikasi Indonesia.
Dipetik Oktober 2021, dari www.academia.edu:
https://www.academia.edu/32595334/Analisa_Manajemen_Proyek_TI_PT_Telekomunikasi_Indonesia.docx
Yananda,
R. (2020, Maret). Apa yang dimaksud Manajemen Komunikasi Proyek?
Dipetik Oktober 2021, dari www.dictio.id:
https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-manajemen-komunikasi-proyek/123857
Baskoro,
F. (2019). MPPL-2019-Manajemen Komunikasi. Dipetik Oktober 2021, dari
fajarbaskoro.blogspot.com:
http://fajarbaskoro.blogspot.com/2019/10/mppl-2019-manajemen-komunikasi.html
Nadirin,
A. T. (t.thn.). Makalah Perencanaan Sumber Daya Manusia. Dipetik
Oktober 2021, dari www.academia.edu:
https://www.academia.edu/29506551/Makalah_Perencanaan_Sumber_Daya_Manusia
Putra, Y. M., (2021). Manajemen Komunikasi
& Manajemen Resiko pada Manajemen Proyek. Modul Kuliah Manajemen
Proses Bisnis. Jakarta : FEB-Universitas Mercu Buana.
Vidianto, A. S., & Haji, W. H. (2020).
Sistem Informasi Manajemen Proyek Berbasis Kanban (Studi Kasus: PT.
XYZ). Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK), 7(2).
Darmawan, D., & Ratnasari, A. (2020).
Rancang Bangun Sistem Informasi Manajemen Proyek Berbasis Web Pada PT Seatech
Infosys. Jurnal Sisfokom (Sistem Informasi dan Komputer), 9(3),
365-372.
Nugroho, A., & Kusumah, L.H. (2021).
Analisis Pelaksanaan Quality Control untuk Mengurangi Defect Produk di
Perusahaan Pengolahan Daging Sapi Wagyu dengan Pendekatan Six Sigma. Jurnal
Manajemen Teknologi 20 (1), 56-78.
Saryanto, S., Purba, H., & Trimarjoko,
A. (2020). Improve quality remanufacturing welding and machining process in
Indonesia using six sigma methods. J. Eur. SystèMes Autom, 53,
377-384
Komentar
Posting Komentar