ANALISIS IMPLEMENTASI KONSEP SIX SIGMA DALAM MANAJEMEN PROSES BISNIS PADA PT TELKOM INDONESIA TB
ANALISIS
IMPLEMENTASI KONSEP SIX SIGMA
DALAM
MANAJEMEN PROSES BISNIS PADA
PT
TELKOM INDONESIA TBK
Artika
Priananda, Ichsan Nur Rahmanto, Nuraenie Oktavianthie, Pradita Dyah Ayu
P, Riski Serina Safitri
Manajemen
Proses Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mercu Buana
Jl.
Meruya Selatan No.31, Kota Jakarta Barat 11610, telp. (021) 5840816
Abstrak
Six Sigma adalah suatu alat manajemen baru
yang digunakan untuk mengganti Total Quality Management (TQM), sangat terfokus
terhadap pengendalian kualitas dengan mendalami sistem produksi perusahaan
secara keseluruhan. Memiliki tujuan untuk, menghilangkan cacat produksi,
memangkas waktu pembuatan produk, dan mehilangkan biaya.
Salah satu produk dari PT Telkom Indonesia
Tbk adalah Idihome. IndiHome merupakan salah satu wujud komitmen Telkom dalam
mendukung terciptanya digital lifestyle bagi seluruh lapisan masyarakat
Indonesia. PT Telkom Indonesia percaya kebutuhan akan layanan fixed
broadband berkualitas tinggi akan tetap tinggi, untuk mendukung beragam
kegiatan masyarakat sehari-hari mulai dari bekerja, belajar, berbelanja,
mendapatkan hiburan dan bahkan berwirausaha.
Kata Kunci: Six Sigma, PT Telkom
Indonesia Tbk
1. PENDAHULUAN
Dalam upaya peningkatan
kualitas produk maupun pelayanan, perusahaan perlu mengukur tingkat kualitas
dari waktu ke waktu, salah satu dengan menerapkan metoda Six Sigma. Six
sigma juga disebut sistem komprehensive - maksudnya adalah strategi,
disiplin ilmu, dan alat - untuk mencapai dan mendukung kesuksesan bisnis. Six Sigma disebut strategi karena terfokus
pada peningkatan kepuasan pelanggan, disebut disiplin ilmu karena mengikuti
model formal,yaitu DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control).
Salah satu produk dari PT Telkom Indonesia Tbk adalah Idihome. IndiHome
merupakan salah satu wujud komitmen Telkom dalam mendukung terciptanya digital
lifestyle bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Kami percaya kebutuhan
akan layanan fixed broadband berkualitas tinggi akan tetap tinggi, untuk
mendukung beragam kegiatan masyarakat sehari-hari mulai dari bekerja, belajar,
berbelanja, mendapatkan hiburan dan bahkan berwirausaha. Penetrasi layanan
fixed broadband di Indonesia yang masih relatif rendah sekitar 15% memberikan
peluang bagi IndiHome untuk dapat terus melanjutkan momentum pertumbuhan di
waktu mendatang.
Telkom menerjemahkan
kerangka strateginya ke dalam strategi portfolio direction yang mencakup
pengembangan 3 (tiga) domain bisnis, yaitu digital connectivity, digital
platform dan digital services. Strategi domain bisnis tersebut didukung oleh
strategi value delivery model yang mencakup strategi optimalisasi portofolio, teknologi,
organisasi, sinergi dan keunggulan operasional, pengelolaan talenta dan budaya
perusahaan, inisiatif inorganik, serta tata kelola perusahaan.
PT Telkom Indonesia
(Persero) Tbk (Telkom) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di
bidang jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan jaringan
telekomunikasi di Indonesia. Pemegang saham mayoritas Telkom adalah Pemerintah
Republik Indonesia sebesar 52.09%, sedangkan 47.91% sisanya dikuasai oleh
publik. Saham Telkom diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode
“TLKM” dan New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode “TLK”. Dalam upaya
bertransformasi menjadi digital telecommunication company, TelkomGroup
mengimplementasikan strategi bisnis dan operasional perusahaan yang berorientasi
kepada pelanggan (customer-oriented). Transformasi tersebut akan membuat
organisasi TelkomGroup menjadi lebih lean (ramping) dan agile (lincah) dalam
beradaptasi dengan perubahan industri telekomunikasi yang berlangsung sangat
cepat. Organisasi yang baru juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan
efektivitas dalam menciptakan customer experience yang berkualitas.
2. LITERATUR TEORI
2.1 Definisi Six-Sigma
Six Sigma adalah suatu alat manajemen baru yang
digunakan untuk mengganti Total Quality Management (TQM), sangat
terfokus terhadap pengendalian kualitas dengan mendalami sistem produksi
perusahaan secara keseluruhan. Memiliki tujuan untuk, menghilangkan cacat
produksi, memangkas waktu pembuatan produk, dan mehilangkan biaya.
2.2 Konsep Six-Sigma
Six
sigma juga disebut sistem komprehensive - maksudnya adalah strategi, disiplin
ilmu, dan alat - untuk mencapai dan mendukung kesuksesan bisnis. Six Sigma disebut strategi karena terfokus
pada peningkatan kepuasan pelanggan, disebut disiplin ilmu karena mengikuti
model formal,yaitu DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control).
Terdiri dari metode-metode yang
mengintegrasikan prinsip-prinsip bisnis, statistik, dan teknik untuk mencapai
hasil yang nyata. Untuk membandingkan dua atau lebih proses yang berbeda dan
ingin mengetahui mana yang lebih bagus kinerjanya. Memiliki tujuan untuk
mentrasformasikan: menghilangkan cacat produksi, memangkas waktu pembuatan
produk, dan menekan biaya.
2.3
Siklus Six-Sigma
Metode yang
digunakan General Electric dan beberapa organisasi lain untuk
meningkatkan proses (termasuk didalamny proses produksi ) diringkas dengan
inisial DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control).
Fase Menentukan Masalah (Define)
·
Define adalah fase menentukan masalah,
menetapkan persyaratan-persyaratan pelanggan, dan membangun tim.
·
Fase ini tidak banyak menggunakan statistik,
alat-alat (tools) statistik yang sering dipakai pada fase ini adalah
diagram sebab-akibat (Cause and Effect Chart) dan Diagram Pareto (Pareto
Chart).
Kedua alat (tool)
statistik tersebut digunakan untuk melakukan identifikasi masalah dan
menentukan prioritas permasalahan.
Aspek-aspek yang
perlu diperhatikan dalam menentukan masalah:
·
Spesifik, menjelaskan secara tepat apa yang
salah, bagian proses mana yang salah dan apa salahnya.
·
Dapat diamati, menjelaskan bukti-bukti nyata
suatu masalah. bukti-bukti tersebut dapat diperoleh baik melalui laporan
internal maupun umpan balik pelanggan.
·
Dapat diukur, menunjukkan lingkup masalah
dalam suatu ukuran.
·
Dapat dikendalikan, masalah harus dapat
diselesaikan dalam rentang waktu tertentu. Apabila masalah terlalu besar maka
dapat dipecah-pecah sehingga dapat lebih dikendalikan.
Fase Pengukuran (Measure)
Fase
mengukur tingkat kinerja saat ini, sebelum mengukur tingkat kinerja biasanya
terlebih dahulu melakukan analisis terhadap sistem pengukuran yang digunakan
Fase Analisis (Analyze)
Fase
analisis (analyze) merupakan fase mencari dan menentukan akar atau penyebab
dari suatu masalah. Masalah-masalah yang timbul kadang-kadang sangat kompleks
sehingga membingungkan antara mana yang akan dan tidak kita selesaikan. Tahapan
fase ini, sering diistilahkan PDCIA.
PDCA
atau yang sering disebut juga dengan Deming Circle/Deming Cycle/Wheel, Shewhart
Cycle, control circle/cycle, dan Plan Do Study Act (PDSA) adalah sebuah metode
manajemen empat langkah iteratif yang digunakan pada proses bisnis untuk
kontrol dan peningkatan berkelanjutan dari proses dan produk.
Keempat fase yang terdapat
pada PDCA adalah :
Plan : mengidentifikasi dan
menganalisis masalah
Pada
tahap ini Anda dapat menggunakan beberapa tools yang berguna seperti Drill
Down, Cause and Effect Diagram, dan 5 Whys untuk membantu Anda menemukan akan
dari permasalahan. Setelah Anda berhasil mengidentifikasi, Anda dapat memetakan
proses tersebut. Selanjutnya Anda dapat menggambarkan semua informasi lain yang
diperlukan untuk membantu Anda dalam mengeluarkan solusi.
Do : mengembangkan dan
menguji solusi yang berpotensi
Fase
ini memiliki beberapa aktifitas diantaranya :
·
Mengeluarkan solusi yang
memungkinkan
·
Memilih solusi terbaik.
(dapat menggunakan teknik Impact Analysis)
·
Mengimplementasikan solusi
sementara pada contoh kasus berskala kecil terlebih dahulu (trial). Pada tahap
ini, tindakan Anda belum terimplementasi
Check : mengukur seberapa efektif pengujian solusi
sebelumnya dan menganalisis apakah langkah tersebut dapat ditingkatkan. Pada
fasa ini Anda akan mengukur seberapa efektif solusi sementara yang telah Anda
buat, lalu Anda dapat mengumpulkan informasi dari segala pihak yang terkait
untuk bersama-sama membuat agar solusi tersebut lebih baik lagi.
Jika
masih belum terlihat hasil yang jelas, Anda dapat mencoba untuk mengulangi
tahap Do untuk kembali melakukan Check ulang. Setelah Anda puas dengan apa yang
telah Anda capai, maka Anda dapat melaju ke tahap berikutnya (final).
Act : mengimplementasikan
solusi yang telah ditingkatkan secara menyeluruh
Sekarang
Anda dapat mengimplementasikan solusi Anda secara menyeluruh. Namun kegunaan
PDCA tidak hanya sampai disini saja. Jika Anda menggunakan PDCA sebagai bentuk
inisiasi dari peningkatan berkelanjutan, maka Anda dapat mengulangi siklus ini
dengan kembali pada tahap awal (Plan) dan mengulang semua tahap ini secara
berurutan agar sistem Anda mencapai kestabilan dan mengalami peningkatan secara
terus menerus.
Lalu
pada kondisi apakah PDCA sebaiknya digunakan? PDCA memberikan sebuah problem
solving yang terkontrol untuk suatu proses dengan nilai guna yang tinggi.
Berikut kami jabarkan kondisi yang paling efektif untuk melakukan PDCA :
Saat
mengimplementasikan Kaizen atau pendekatan pengembangan berkelanjutan. Ketika cycle
PDCA dilakukan, akan terjadi berbagai improvement pada area yang dilaluinya
sekaligus menyelesaikan masalah yang ada
Ketika
mengidentifikasi solusi dan improvement baru untuk sebuah proses yang dilakukan
secara berulang-ulang. Pada situasi ini Anda akan mendapat benefit dari
peningkatan extra yang ditanamkan pada proses dengan implementasi yang
dilakukan berkali-kali.
Dalam
mengeksplorasi range dari solusi baru yang memungkinkan untuk memecahkan
masalah dan menguji sekaligus meningkatkan solusi tersebut dengan implementasi
kontrol yang lebih baik Menghindari pemborosan sumber daya dalam jumlah besar
yang dapat terjadi jika implementasi dilakukan tanpa pengujian terlebih dahulu.
Jelas
sekali menggunakan PDCA adalah suatu pendekatan yang lebih lambat daripada
melakukan implementasi straightforward dari gung ho. Dalam keadaan
emergency tentu Anda tidak perlu lagi melakukan tindakan ini. Namun, Anda akan
mendapat keuntungan yang lebih besar jika menerapkan PDCA pada timing atau
waktu yang tepat khususnya untuk peningkatan yang berkesinambungan seperti yang
telah kami jabarkan di atas.
Fase Pengembangan (Improve)
·
Pengembangan (Improve)
adalah fase meningkatkan proses(x) dan menghilangkan sebab-sebab cacat
·
Pada fase pengukuran (measure)
telah dinetapkan variabel faktor (x) dan untuk masing-masing variabel
respons(y).
·
Sedangkan pada fase
pengembangan (improve) banyak melibatkan uji perancangan percobaan ( Design
of Experiment ) atau disingkat DoE.
·
DoE merupakan suatu pengujian
dengan mengubah variabel faktor sehingga penyebab perubahan pada variabel
respon diketahui.
Fase Pengendalian (Control)
Hal
yang terpenting dalam melakukan Six Sigma terletak pada fase ini, CONTROL.
Mempertahankan kemenangan memang lebih susah ketika kita mendapatkannya. Tujuan
dari fase ini adalah memastikan implementasi menyeluruh dapat berjalan baik,
sustainable (berke-sinambungan). Fase Control ini juga menjadi akhir dari
keterlibatan aktif Tim dalam proyek. Pengendalian (Control) adalah fase
mengendalikan kinerja proses (x) dan menjamin cacat tidak muncul kembali
Alat (tool) yang umum digunakan adalah diagram
kontrol (Control chart):
·
Membantu mengurangi
variabilitas.
·
Memonitor kinerja setiap
saat.
·
Memungkinkan proses koreksi
untuk mencegah penolakan.
Desain Kekuatan Proses dan
Peningkatan Proses Kinerja
Design For Six Sigma (DFSS)
Design
For Six Sigma (DFSS) adalah sebuah metodologi manajemen bisnis proses yang
berhubungan dengan Six Sigma tradisional. DFSS memiliki tujuan untuk menentukan
kebutuhan dari customer dan bisnis serta mengarahkan kebutuhan tersebut ke
dalam produk sehingga terciptalah suatu solusi. Selain itu DFSS juga cukup
relevan dengan fase sintesis dari sistem atau produk yang kompleks, khususnya
dalam konteks pengembangan sistem yang belum pernah terjadi sebelumnya.
DFSS
ini juga terkadang sering disamakan dengan DMADV (Define Measure Analyze Design
Verify). Berbeda dengan DMAIC (Define Analyze Improve Control) Six Sigma
tradisional, DFSS atau DMADV berjuang untuk menghasilkan sebuah proses yang
sebelumnya tidak ada atau ketika suatu proses yang sudah ada dianggap tidak
memadai dan harus diganti. DFSS menargetkan untuk membuat sebuah proses yang
mengoptimalkan terciptanya sebuah efisiensi dengan metode Six Sigma ke dalam
proses sebelum implementasi , tidak seperti Six Sigma tradisional yang
melakukan improvement berkelanjutan setelah proses tersebut terjadi.
Lalu bagaimana urutan yang
tepat agar DFSS dapat terlaksana dengan baik?
1. New product introduction, mencakup pemilihan
dari konsep bisnis untuk memenuhi kebutuhan baru.
2. Define, permulaan dari project DFSS secara
nyata.
3. Customer, tahap dimana customer telah
diidentifikasi secara maksimal dan kebutuhan mereka telah dianalisa.
4. Concept, tim mengambil konsep yang disediakan
oleh bisnis untuk produk atau service baru dan memulai untuk menyempurnakan
konsep untuk ‘paper design’ yang digunakan.
5. Design, tim menyerahkan desain mentah dan para
desainer menyempurnakan pekerjaan tersebut menggunakan semua CTP sebagai
petunjuk dan evaluator untuk memastikan desain tersebut sempurna
6. Implement, mencakup piloting dan refining
7. Handover, setelah diimplementasikan secara
penuh, maka produk atau service dan proses pendukung dapat diserahkan kepada
pemilik proses yang baru.
Sangat
penting untuk menjaga siklus hidup secara keseluruhan dari suatu produk maupun
service yang baru. Hal ini dimulai ketika suatu organisasi telah secara resmi
menyetujui requirement untuk sesuatu yang baru dan berakhir ketika produk
maupun service tersebut telah pindah ke tangan customer.
3. PEMBAHASAN
3.1 Segmen Mobile
Terkait layanan mobile
digital, Telkomsel mengeksplorasi banyak peluang dalam inisiatif digital
baru untuk memenuhi kebutuhan pelanggan guna melengkapi konektivitas
jaringan. Layanan mobile digital semakin diperkaya melalui inisiatif
yang terkait dengan beragam konten video, musik, game, dan fintech yang
pada akhirnya akan memperkaya ekosistem digital pelanggan. Telkomsel memperkuat
posisi MAXstream dalam industri streaming video dengan tambahan HBO Go
dan Disney+ untuk melengkapi konten video. Bagi pecinta musik dan game,
Telkomsel menyediakan layanan streaming LangitMusik dan Telkomsel Dunia
Games, yang menyediakan ekosistem game lengkap yang menggabungkan media
content, distribusi, fasilitas pembayaran, e-sport, dan game
publishing. Kami meluncurkan game online dan mulai mengembangkan
komunitas game untuk memperluas pengalaman pelanggan. Di tahun 2020 ini
kami telah merilis game ketiga yaitu Rise of Nowlin, game keempat
yaitu Kolak Express 3, dan game kelima yaitu Three Kingdoms: Quest of
Infinity. Selain layanan entertainment, TelkomGroup menyediakan electronic
money service LinkAja yang dikelola oleh anak usahanya yaitu PT Fintek
Karya Nusantara (Finarya). Sebagai alat pembayaran, LinkAja telah berkolaborasi
dengan berbagai mitra seperti taksi, pom bensin, gerai makanan dan minuman,
serta pembayaran tol dan pajak.
Untuk memperkuat layanan mobile digital di
masa depan, Telkomsel melakukan strategic investment kepada PT Aplikasi Karya
Anak Bangsa (Gojek) pada bulan November 2020. Telkomsel percaya kolaborasi
dengan Gojek dapat memberikan layanan dan solusi yang lebih baik kepada
masyarakat dalam membangun ekosistem digital. Dengan kolaborasi ini, Telkomsel
diharapkan dapat membuka nilai sinergi bagi kedua belah pihak terutama melalui
integrasi platform-apps, diversifikasi penawaran produk, meningkatkan trafik
dan pendapatan data, memperluas pangsa pasar dan mengurangi churn pelanggan.
Selain dengan pihak eksternal, sinergi internal juga terus dikembangkan di
antaranya sinergi Telkomsel dan IndiHome agar dapat saling mengisi celah pasar.
Demi memperkokoh posisi Telkom sebagai
leader penyediaan jaringan, pada tahun 2020 Telkom menambah 18,9 ribu BTS baru
untuk mendukung layanan 4G/LTE di berbagai kota dan berhasil mengakuisisi 18,3
juta tambahan pelanggan 4G/LTE. Sampai akhir Desember 2020, Telkom memiliki
total 107,5 ribu BTS 4G dengan jangkauan mencakup lebih dari 90% di seluruh
Indonesia.
3.2 Segmen Consumer
Pada segmen Consumer, IndiHome juga
mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di layanan fixed broadband di
Indonesia dengan menguasai 82,3% pangsa pasar. Jumlah pelanggan IndiHome
bertambah sebesar 1,0 juta menjadi 8,0 juta pelanggan. Peningkatan jumlah
pelanggan ini turut mendorong pertumbuhan pendapatan segmen Consumer yang
tumbuh cukup tinggi sebesar 18,4% menjadi Rp21,0 triliun, dan memberikan
kontribusi sebesar 15,4% terhadap Pendapatan Konsolidasian Perusahaan. Selain
itu, profitabilitas IndiHome juga semakin baik dengan EBITDA margin mencapai
38,9%, meningkat signifikan menjadi 33,9% dibandingkan tahun lalu.
3.3 Segmen Enterprise
Di segmen
Enterprise, pada tahun 2020 kami melanjutkan kebijakan untuk memperkuat
fundamental bisnis kami yaitu dengan fokus pada layanan yang memiliki margin
lebih baik serta mengurangi produk dan layanan dengan margin relatif kecil,
untuk lebih memastikan bisnis yang berkelanjutan dan pendapatan yang berkualitas.
Meskipun segmen Enterprise mengalami penurunan sebesar 5,2% menjadi Rp17,7
triliun, namun segmen ini mengalami perbaikan yang signifikan pada paruh kedua
tahun 2020. Segmen Enterprise memberikan kontribusi sebesar 13,0% terhadap
Pendapatan Konsolidasian.
3.4 Segmen Wholesale and International Business
Pada segmen Wholesale and International
Business (“WIB”), melalui penyediaan infrastruktur dan layanan yang lengkap,
kami melayani other licensed operator (OLO), service provider, dan digital
player di dalam maupun di luar negeri. Segmen ini juga memegang peran yang
vital yaitu sebagai enabler bagi segmen bisnis lain di TelkomGroup. Pada tahun
2020, Segmen WIB mencatatkan pendapatan sebesar Rp13,5 triliun atau mengalami
pertumbuhan sebesar 27,3% dibandingkan tahun 2019 yaitu sebesar Rp10,6 triliun.
Segmen ini memberikan kontribusi sebesar 9,9% terhadap Pendapatan Konsolidasian
Telkom.
3.5 Segmen lain-lain
Pada segmen
Lain-lain yang terutama adalah layanan Digital, pada tahun 2020 Telkom
melaporkan pertumbuhan sebesar 11,2%. Meskipun kontribusinya terhadap
Pendapatan Konsolidasian masih relatif kecil, segmen ini menunjukkan inisiatif
kami dalam pengembangan dan penyediaan beragam layanan digital baik untuk
business to business (B2B) maupun business to consumer (B2C). Ragam layanan
digital yang kami kembangkan diantaranya di bidang finansial, pendidikan,
logistik, kesehatan dan juga lifestyle seperti video, games, dan musik.
4. KESIMPULAN
Six
Sigma adalah suatu alat manajemen baru yang digunakan untuk mengganti Total
Quality Management (TQM), sangat terfokus terhadap pengendalian kualitas
dengan mendalami sistem produksi perusahaan secara keseluruhan. Memiliki tujuan
untuk, menghilangkan cacat produksi, memangkas waktu pembuatan produk, dan
mehilangkan biaya.
Six
Sigma disebut strategi karena terfokus pada peningkatan kepuasan pelanggan,
disebut disiplin ilmu karena mengikuti model formal,yaitu DMAIC (Define,
Measure, Analyze, Improve, Control). Salah satu produk dari PT Telkom
Indonesia Tbk adalah Idihome. IndiHome merupakan salah satu wujud komitmen
Telkom dalam mendukung terciptanya digital lifestyle bagi seluruh
lapisan masyarakat Indonesia. PT Telkom Indonesia percaya kebutuhan akan layanan
fixed broadband berkualitas tinggi akan tetap tinggi, untuk mendukung
beragam kegiatan masyarakat sehari-hari mulai dari bekerja, belajar,
berbelanja, mendapatkan hiburan dan bahkan berwirausaha.
DAFTAR PUSTAKA
Rahmalia, N. (2021, Februari 26). Rancang
Proses Bisnis yang Efektif dan Efisien dengan Six Sigma. Dipetik
September 2021, dari glints.com: https://glints.com/id/lowongan/six-sigma/
Apa
itu Six Sigma, dan Bagaimanaca Cara Penerapannya? (t.thn.). Dipetik September 2021,
dari manajemenproduksi.com:
https://manajemenproduksi.com/apa-itu-six-sigma-dan-bagaimanaca-cara-penerapannya/
Putra,
Y. M., (2021). Definisi Konseptual Manajemen Proses Bisnis. Modul
Kuliah Manajemen Proses Bisnis. Jakarta : FEB-Universitas
Mercu Buana.
Nugroho,
A., & Kusumah, L.H. (2021). Analisis Pelaksanaan Quality Control untuk
Mengurangi Defect Produk di Perusahaan Pengolahan Daging Sapi Wagyu dengan
Pendekatan Six Sigma. Jurnal Manajemen Teknologi 20 (1), 56-78.
Syafrimaini,
& Husin, A.E. (2021). Implementation of Lean Six Sigma Method in
High-Rise Residential Building Projects. Civil Engineering and Architecture 9
(4), 1228-1236.
Pujangga,
G. A. (2018). Penerapan Metode Six Sigma Sebagai Upaya Pengendalian Kualitas
Produk dengan Menggunakan Konsep DMAIC. Ratih: Jurnal Rekayasa Teknologi
Industri Hijau, 1(2), 10.
Tampubolon,
S., & Purba, H. H. (2021) Lean Six Sigma Implementation, A Systematic
Literature Review. International Journal of Production Management and
Engineering 9 (2), 125-139.
Saryanto,
S., Purba, H., & Trimarjoko, A. (2020). Improve quality remanufacturing
welding and machining process in Indonesia using six sigma methods. J.
Eur. SystèMes Autom, 53, 377-384.
Komentar
Posting Komentar